Korea Utara-Rusia Sepakati Perluasan Kerja Sama Militer

    Arpan Rahman - 04 Juli 2019 19:10 WIB
    Korea Utara-Rusia Sepakati Perluasan Kerja Sama Militer
    Parade militer Korea Utara yang menunjukkan kekuatan militernya. (Foto: AFP).
    Pyongyang: Korea Utara (Korut) menyambut delegasi Rusia dan kedua pihak sepakat untuk memperluas kerja sama militer.

    Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Fomin bertemu dengan mitranya dari Korut, Kim Hyong Ryong, di Pyongyang dan membahas tujuan bersama kedua negara.

    "Tujuan utama kunjungan ini adalah untuk menetapkan rincian spesifik kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara," kata Fomin kepada Tass, disiarkan dari UPI, Rabu 3 Juli 2019.

    Menjelang kunjungan, Kemenhan Rusia mengeluarkan sebuah pernyataan. "Selama pembicaraan yang akan datang, para pihak berencana membahas situasi di Asia Timur Laut dan di Semenanjung Korea, kondisi dan prospek kerja sama Rusia-Korea Utara di bidang militer, serta masalah yang relevan pada agenda keamanan internasional dan regional," sebut pernyataan Kemenhan Rusia.

    Di Korut, Fomin dilaporkan menjelaskan operasi militer Rusia di Suriah. Pejabat Rusia itu berkata bahwa Moskow mengerahkan pasukannya di Suriah dengan alasan bantuan kemanusiaan dan untuk memerangi organisasi teroris internasional di Timur Tengah, menurut Tass.

    Fomin juga mengatakan kerja sama militer antara Rusia dan Korut menjadi lebih aktif setelah pertemuan puncak antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kim Jong Un pada April.

    Kunjungan delegasi Rusia ke Pyongyang dilakukan tak lama setelah KTT Kim yang mengejutkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di zona demiliterisasi Korea.

    Menyusul KTT ketiga itu, utusan khusus AS untuk Korut Steve Biegun mengatakan kepada wartawan dalam sebuah pengarahan tidak resmi bahwa pemerintah Trump menginginkan pembekuan total program senjata nuklir Korut, Axios melaporkan.

    Pernyataan itu menandakan fleksibilitas AS, tetapi tidak berarti Washington mengabaikan tujuan jangka panjang "denuklirisasi lengkap," menurut laporan tersebut.

    “Pemerintahan Trump menginginkan pembekuan dan gagasan tentang keadaan akhir, dan kemudian di dalamnya sebuah diskusi tentang sebuah peta jalan," kata Biegun.

    Biegun telah membantah laporan bahwa pemerintah secara diam-diam dapat menerima Pyongyang sebagai kekuatan nuklir, setelah New York Times melaporkan para pejabat Trump mengabaikan denuklirisasi total, menurut Axios.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id