comscore

India Hadapi Pembangkangan di ‘Gaza’ Kashmir

Arpan Rahman - 22 Agustus 2019 16:08 WIB
India Hadapi Pembangkangan di ‘Gaza’ Kashmir
Warga Kashmir saat ditanya oleh pasukan paramiliter India. Foto: AFP.
Kashmir: Di tengah pengepungan dari lingkungan yang disebut ‘Gaza Kashmir’, pengeras suara masjid menyiarkan slogan-slogan pembebasan. Para pria muda duduk di samping tumpukan batu dan api unggun, melindungi satu-satunya pintu masuk. 

Lewat tindakan menentang keputusan kontroversial New Delhi buat menghapus otonomi mayoritas wilayah Muslim, lingkungan Soura di pinggiran kota utama Srinagar, Kashmir, telah disegel dari pasukan keamanan.
Sejak awal Agustus, penduduk membangun sejumlah barikade dari lempengan timah, kayu gelondongan, tangki minyak, dan pilar beton, serta menggali parit untuk menahan tentara di tengah protes harian terhadap India.

"Mereka hanya bisa memasuki Soura di atas mayat kami. Kami bahkan tidak akan memberikan satu inci pun tanah ke India," Mufeed, seorang penduduk yang sukarela menjaga lingkungan itu pada malam hari, mengatakan kepada AFP.

"Sama seperti Gaza yang melawan Israel, kami akan berjuang untuk tanah air kami dengan sekuat tenaga," tambah Mufeed, disitir dari AFP, Kamis 22 Agustus 2019.

Kashmir melancarkan pemberontakan bersenjata selama tiga dekade melawan pemerintahan India. Puluhan ribu jiwa, sebagian besar warga sipil, hilang dalam konflik.

Menjelang pengumuman, India mengirim puluhan ribu pasukan tambahan ke wilayah bergolak guna bergabung dengan 500.000 personel yang sudah ada di lembah itu. Sembari memberlakukan tindakan keras ketat karena khawatir akan kerusuhan lebih lanjut.

Tetapi protes sudah pecah, kelas menengah bawah Soura memimpin. Setidaknya 15.000 orang berunjuk rasa pada 9 Agustus -- demonstrasi terbesar di Kashmir sejauh ini.

Mereka disambut pasukan keamanan yang menembakkan amunisi tajam, gas air mata, dan senjata api demi membubarkan kerumunan. Lebih dari 24 orang dilaporkan terluka. Soura, komunitas tepi danau yang penuh sesak dengan lebih dari 2.000 rumah, dikepung pasukan keamanan dari tiga sisi.

Masjid terkenal Jenab Saeb telah menjadi titik pertemuan bagi ribuan demonstran di lingkungan tersebut. Setiap malam, warga berbaris melalui jalan sempit, membawa obor dan melewati coretan dengan tulisan "Freedom for Kashmir" dan "Pergilah India, kembalilah".

Warga setempat menyampaikan pesan jika mereka melihat pergerakan polisi di jalan raya utama tepat di luar Soura. Pasukan polisi, yang mengerahkan pesawat tak berawak dan helikopter, mencoba memasuki Soura setidaknya tiga kali. Tetapi mundur kembali oleh pemuda yang melemparkan batu, beberapa juga dipersenjatai dengan kapak dan tombak.

Tahu dengan taktik polisi yang membubarkan kerumunan, para pengunjuk rasa menggunakan air asin buat mencuci muka setelah cabai dan gas air mata ditembakkan. Mereka memakai helm dan kacamata untuk melindungi diri dari pelet.

Tiga pemuda sejauh ini ditangkap setelah berkeliaran keluar dari daerah tersebut. "Mereka (India) sedang menguji ketahanan kami dan mereka pasti akan gagal," kata Nahida setempat kepada AFP.

"Kami mengalahkan mereka terakhir kali dan bahkan jika situasi ini berlanjut selama bertahun-tahun, kami tidak akan menyerah," serunya.

Terlepas dari protes Soura, pihak berwenang menekankan bahwa Kashmir sebagian besar tetap damai sejak dikunci.

Soura telah lama menjadi bagian dari sejarah Kashmir yang bergolak sejak wilayah itu terbagi antara India dan Pakistan setelah kemerdekaan dari Inggris pada 1947.

Lingkungan itu adalah tempat kelahiran mantan perdana menteri Kashmir, Sheikh Abdullah, yang setuju bergabung dengan India sebagai negara bagian dengan hak otonomi.

Partai Konferensi Nasional -- yang telah memperjuangkan lebih banyak otonomi saat berada di bawah kekuasaan India -- memimpin negara bagian itu selama lebih dari tiga dekade. Putranya Farooq Abdullah dan cucunya Omar Abdullah menjadi menteri utama. Farooq dan Omar Abdullah ditahan oleh New Delhi sebagai bagian dari kuncian.

Warga menjadi lebih anti-India dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2016 ketika protes massa jalanan meletus atas kematian seorang komandan militan populer, Soura menjadi tempat puluhan bentrokan kontra pasukan pemerintah.

Warga Soura, Rafiq Mansoor Shah, mengatakan banyak penduduk setempat khawatir tentang keputusan Abdullah untuk bergabung dengan India.

Di bawah pengaturan baru yang diumumkan bulan ini, orang India dari bagian lain negara yang luas itu sekarang dapat melamar pekerjaan pemerintah dan membeli properti di Kashmir. Tetapi banyak penduduk asli Soura seperti Shah percaya New Delhi memiliki "rencana jahat untuk merebut tanah kami".

"Karena keserakahan (keluarga Abdullah) untuk kekuasaan kami telah menjadi budak di India. Kami berusaha untuk memperbaiki kesalahan sejarah," katanya.

"Kami mencoba untuk memimpin dan menginspirasi sisa Kashmir," pungkasnya.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id