Longsor di Tambang Giok Myanmar, 54 Dikhawatirkan Tewas

    Arpan Rahman - 24 April 2019 15:01 WIB
    Longsor di Tambang Giok Myanmar, 54 Dikhawatirkan Tewas
    Foto udara memperlihatkan upaya pencarian dan penyelamatan di area tambang batu giok di Hpakant, Myanmar, 23 April 2019. (Foto: AFP/STR)
    Hpakant: Sedikitnya 54 orang dikhawatirkan tewas setelah mereka semua terkubur material tanah dan lumpur dan musibah longsor di sebuah wilayah tambang di Myanmar utara. 

    Seorang pejabat lokal mengaku sulit menemukan dan menyelamatkan para korban dari lokasi kejadian di dekat desa Maw Wun Kalay, Hpakant, negara bagian Kachin. Ia menyebut material longsor terlihat seperti "danau lumpur." Pada Selasa malam, otoritas setempat menemukan tiga jenazah korban longsor.

    Upaya pencarian dan penyelamatan dilanjutkan sepanjang malam, di area tambang sedalam 30 meter. Namun Tin Soe, seorang anggota parlemen Myanmar yang mewakili Hpakant, pesimistis ada korban selamat dari tragedi ini.

    "Tidak mungkin (selamat) karena mereka semua terkubur lumpur," kata Soe, disitat dari laman UPI, Selasa 23 April 2019.

    Longsor terjadi pada Senin malam saat para pekerja tambang sedang tertidur. Kementerian Informasi Myanmar mengidentifikasi Shwe Nagar Koe Kuang dan Myanmar Thura Gems sebagai dua perusahaan terkait insiden tersebut.

    Tanah longsor di area tambang giok merupakan hal yang terjadi dari waktu ke waktu di Myanmar. Pada setiap tahunnya, insiden semacam itu menewaskan puluhan orang.

    Khusus untuk Hpakant, kantor pemerintah setempat mencatat sepanjang tahun ini sedikitnya 20 orang tewas dalam insiden tambang roboh dan tanah longsor.

    Myanmar adalah salah satu negara penghasil giok terbaik di dunia, yang menjadi barang bernilai tinggi di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu menyebut giok sebagai "batu surga."
     
    Banyak perusahaan tambang di Myanmar meraup untung besar dari giok. Namun sebagian besar warga lokal mengaku tak mendapat keuntungan apapun dari aktivitas pertambangan tersebut.

    Organisasi Global Witness mengestimasi Myanmar telah memproduksi giok hingga senilai USD31 miliar pada 2014. Keuntungan penjualan itu masuk ke kantong beberapa figur di Myanmar, mulai dari tokoh militer hingga mantan petinggi junta.
     
    Menurut dugaan Global Witness, sebagian besar giok kualitas terbaik langsung diselundupkan ke Tiongkok. Global Witness mengatakan industri terselubung batu giok di Myanmar mungkin adalah "sebuah pencurian sumber daya alam terbesar di era modern."




    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id