Amnesty Internasional Desak Polisi Hong Kong Diselidiki - Medcom

    Amnesty Internasional Desak Polisi Hong Kong Diselidiki

    Medcom - 24 September 2019 19:09 WIB
    Amnesty Internasional Desak Polisi Hong Kong Diselidiki
    Pedemo Hong Kong dihadapkan pada tembakan gas air mata. Foto: AFP
    Hong Kong: Amnesty Internasional pada Selasa mendesak Pemerintah Hong Kong untuk menyelidiki sikap keras polisi selama hampir empat bulan unjuk rasa berlangsung. Mereka mendorong Beijing untuk melindungi hak pengunjuk rasa untuk berkumpul secara damai.

    Banyak protes damai berubah menjadi pertempuran antara pedemo berpakaian hitam dan polisi, yang telah menanggapi dengan gas air mata, peluru karet, putaran kantong kacang dan beberapa peluru langsung ditembakkan ke udara.

    Polisi, yang juga terlihat memukuli para demonstran di tanah dengan tongkat mengatakan, mereka telah menunjukkan pengekangan di jalan-jalan dalam menghadapi meningkatnya kekerasan, termasuk pengunjuk rasa melemparkan bensin ke pasukan keamanan.

    “Memerintahkan penyelidikan independen dan efektif terhadap tindakan polisi akan menjadi langkah awal yang vital. Pihak berwenang perlu menunjukkan bahwa mereka bersedia melindungi hak asasi manusia di Hong Kong, bahkan jika ini berarti mendorong kembali terhadap ‘garis merah’ Beijing,” kata Joshua Rosenzweig, Kepala kantor regional Amnesty di Asia Timur dalam sebuah laporan, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa, 24 September 2019.

    Pada 2017, Presiden Tiongkok Xi Jinping memperingatkan dalam pidatonya yang menandai peringatan 20 tahun penyerahan Hong Kong kepada Beijing bahwa setiap upaya untuk melemahkan kedaulatan Tiongkok adalah ‘garis merah’ yang tidak ditoleransi.

    Apa yang dimulai sebagai protes atas rancangan undang-undang ekstradisi telah berkembang menjadi seruan yang lebih luas untuk demokrasi yang lebih besar dan penyelidikan independen terhadap tindakan polisi. Kini rancangan undang-undang itu telah dibatalkan.

    Para aktivis juga frustasi dengan apa yang mereka lihat sebagai cengkeraman sikap keras Beijing atas bekas koloni Inggris yang dikembalikan ke Tiongkok di bawah pengaturan ‘satu negara, dua sistem’ pada 1997.

    Negeri Tirai Bambu mengatakan, pihaknya berkomitmen terhadap pengaturan yang menjamin kebebasan yang tidak dinikmati di daratan, termasuk hak untuk berkumpul dan peradilan yang independen serta menyangkal campur tangan.

    Dalam sebuah tantangan langsung kepada penguasa Partai Komunis di Tiongkok daratan, beberapa pengunjuk rasa telah menargetkan kantor perwakilan Beijing di Hong Kong, melemparkan batu bata ke luar pangkalan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok dan membakar bendera Tiongkok.

    Pusat keuangan Asia berada di ambang menjelang peringatan 70 tahun berdirinya Republik Rakyat pada 1 Oktober, dengan pihak berwenang ingin menghindari adegan yang dapat mempermalukan pemerintah pusat di Beijing.

    Hong Kong juga menandai ulang tahun ke lima akhir pekan ini dari dimulainya protes ‘Payung,’ serangkaian demonstrasi pro-demokrasi pada 2014 yang gagal merebut konsensi dari Beijing.




    Penulis: Fitri Nur Rizkyani



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id