Bahas Sampah, Aktivis Cilik Gresik Sasar Jerman, Australia dan AS

    Marcheilla Ariesta - 23 Januari 2020 04:17 WIB
    Bahas Sampah, Aktivis Cilik Gresik Sasar Jerman, Australia dan AS
    Aeshnina Azzahra saat bertemu Dubes Jerman Peter Schoof. Foto: DW
    Jakarta: Jika Swedia memiliki Greta Thunberg sebagai aktivis lingkungan muda, maka Indonesia juga memiliki Aeshnina Azzahra. Nina, panggilan akrabnya dalam beberapa hari terakhir aktif bertemu dubes negara sahabat membahas sampah plastik.

    Aktivis lingkungan cilik asal Gresik itu bertemu dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Peter Schoof, Selasa 21 Januari 2020. Dia meminta kepada Dubes Schoof untuk menyerahkan surat kepada Kanselir Jerman Angela Merkel.

    Dalam pertemuan tersebut, dia membahas mengenai sampah plastik impor yang ditemukan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dia juga memperlihatkan kartu identitas seorang perempuan Jerman, dan kemasan minuman asal Negeri Bavaria yang ditemukan di antara tumpukan sampah di Desa Bangun Mojokerto.

    Dubes Schoof berjanji akan mengirimkan surat tersebut ke Berlin pada hari yang sama. Dia akan berusaha keras agar Nina mendapatkan tanggapan langsung dari Kanselir Jerman.

    Kepada murid SMPN 12 Gresik ini, Dubes Schoof mengatakan sulit untuk mengetahui secara pasti tingkat persentase sampah plastik ilegal yang tercampur kertas daur ulang impor. Namun ia terus mengimbau agar Indonesia memberi bukti jika ada perusahaan Jerman yang terkait pelanggaran impor sampah sehingga mereka bisa ditindak secara hukum.

    Schoof mengaku telah memperingatkan pemerintah Jerman agar lebih ketat dalam memeriksa kontainer sampah yang akan diekspor. Ia menambahkan bahwa Indonesia menghasilkan 3,2 - 3,9 juta ton plastik dalam setahun sedangkan Jerman mengirim 64,000 ton plastik bahan baku plastik ke Indonesia.

    "Sebagian besar dari masalah terkait sampah yang ada di Indonesia adalah kita perlu mencari cara untuk mengumpulkan sampah dari perumahan masyarakat, memisahkan antara sampah daur ulang dan yang tidak bisa didaur ulang serta membangun pabrik daur ulang," kata Schoof dalam pernyataan yang diterima Medcom.id, Rabu 22 Januari 2020.

    Jerman, kata dia, sudah melakukan upaya untuk membangun pabrik daur ulang di Indonesia. Namun hal ini butuh kerjasama lebih erat dengan pemerintah Indonesia untuk terus menghentikan impor plastik ilegal.

    Langkah ini menurutnya dapat membangun kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai dan laut serta mengurangi pemakaian plastik sekali pakai.

    Nina mempelajari proses daur ulang sampah plastik impor di masyarakat dalam rangka pembuatan film dokumenter untuk KIKA, sebuah saluran TV Jerman. Nina meminta negara maju untuk menghentikan ekspor sampah kertas bercampur plastik kotor yang tidak bisa didaur ulang agar tidak dibuang di bantaran sungai atau dibakar di pekarangan.

    Tak hanya menulis surat untuk Kanselir Merkel, Nina juga sudah menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia juga mengirim surat kepada Perdana Menteri Australia melalui Kedutaan Besar Australia di Jakarta.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id