Kelaparan, Warga Asing di Wuhan Minta Dievakuasi

    Marcheilla Ariesta - 27 Januari 2020 08:28 WIB
    Kelaparan, Warga Asing di Wuhan Minta Dievakuasi
    Warga yang mengenakan masker pengaman berjalan di kota Wuhan, provinsi Hubei, Tiongkok, 23 Januari 2020. (Foto: AFP/HECTOR RETAMAL)
    Hubei: Sejumlah warga asing yang terisolasi di kota Wuhan di Tiongkok mulai merasa cemas. Mereka mengaku hanya bisa berdiam di rumah, kehabisan makanan, dan ingin segera pergi meninggalkan kota tersebut.

    Wuhan merupakan episenter penyebaran virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV). Pemerintah Tiongkok menutup rapat kota tersebut demi mencegah penyebaran virus korona yang telah menewaskan 80 orang.

    "Dalam sepekan terakhir kita tidak bisa keluar dan membeli apapun untuk dimakan," kata Mashal Jamalzai, mahasiswa ilmu politik di Cental China Normal University yang berasal dari Afghanistan, dilansir dari Channel News Asia, Senin 27 Januari 2020.

    Jamalzai menuturkan, ia dan teman-teman sekelasnya hanya makan biskuit sejak Wuhan ditutup. Sementara itu, pihak kedutaan Afghanistan di Tiongkok juga belum menanggapi permintaan bantuan mereka.

    "Kami ingin dievakuasi sesegera mungkin karena virus. Kelaparan dan ketakutan akan membunuh kami," katanya.

    Ribuan mahasiswa dan warga asing tinggal di kota Wuhan. Kota ini merupakan salah satu yang terpadat di Tiongkok karena merupakan basis industri baja dan otomotif.

    Namun dengan sekolah, rumah sakit, dan kantor publik yang ditutup serta tidak adanya transportasi keluar, Wuhan digambarkan seperti 'kota hantu.'

    "Situasi di Wuhan saat ini sangat mengkhawatirkan," kata pelajar asal Indonesia yang merupakan mahasiswa Universitas Hubei, Siti Mawaddah.

    Siti menceritakan situasi tersebut telah membuat ia dan teman-temannya tertekan secara psikologis. "Jika kita tinggal di Wuhan, seolah-olah kita hanya menunggu giliran untuk terinfeksi," imbuh dia.

    Perempuan 25 tahun itu mengatakan telah mendengar rencana Amerika Serikat akan mengevakuasi staf konsuler dan beberapa warga mereka di sana. Dia berharap Pemerintah Indonesia juga dapat melakukan hal yang sama.

    Data dari KBRI Beijing per Sabtu, 25 Januari 2020, terdapat 93 warga negara Indonesia (WNI) yang masih berada di Kota Wuhan. Kota ini merupakan wilayah pertama Novel Coronavirus (nCoV) terungkap.

    Kepada Medcom.id, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) Kementerian Luar Negeri mengatakan mayoritas mahasiswa yang ada tinggal di asrama.

    "Kemenlu-KBRI- Persatuan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) telah membuat WeChat grup untuk memonitor situasi terakhir dan bantuan yang diperlukan para WNI di Wuhan," tuturnya.

    Pemerintah Tiongkok mengeluarkan data terbaru seputar virus korona, yakni 80 korban tewas dengan total kasus terkonfirmasi mencapai 2.744 per hari ini, Senin 27 Januari 2020. Tambahan 24 korban tewas berasal dari Hubei, provinsi yang menjadi episenter penyebaran virus korona tipe nCoV.

    Meski tidak ada kematian baru di luar Hubei, angka infeksi terverifikasi virus korona di seantero Tiongkok mencapai 769 kasus. Sekitar separuh dari total kasus itu berasal dari Hubei.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id