Demonstrasi Picu Warga Hong Kong Cari Kehidupan di Taiwan

    Arpan Rahman - 02 Desember 2019 16:17 WIB
    Demonstrasi Picu Warga Hong Kong Cari Kehidupan di Taiwan
    Polisi Hong Kong melarang para demonstrans untuk melakukan aksi protes. Foto: AFP
    Hong Kong: Protes yang melumpuhkan Hong Kong selama hampir enam bulan mendorong penduduk mencari kehidupan baru di luar negeri. Banyak yang pindah ke Taiwan untuk melarikan diri dari ketidakpastian di dalam negeri.

    Taiwan telah lama menarik perhatian warga Hong Kong buat mencari alternatif dari hiruk-pikuk kota mereka dan harga sewa yang mahal sekali.

    Jumlah yang dijamin residensi jangka pendek dan permanen di Taiwan naik hampir 30 persen menjadi lebih dari 4.000 antara Januari dan September dari tahun sebelumnya, dengan investasi dari Hong Kong hampir dua kali lipat.

    Leonardo Wong berada di kota Kaohsiung, Taiwan selatan bulan lalu mencari lokasi restoran yang akan dibuka ketika ia pindah ke pulau itu pada Januari.

    "Hong Kong tidak lagi aman. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Ada terlalu banyak kekuatan eksternal yang bisa mengubah haluan," kata pria berusia 27 tahun itu kepada AFP, Senin, 2 Desember 2019.

    "Sekarang rasanya agak seperti hal-hal yang tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Kita tidak bisa melihat ke masa depan seperti apa (Hong Kong) menuju," lanjutnya.

    Taiwan tidak mengakui konsep hukum suaka atau menerima aplikasi pengungsi, takut akan masuknya potensi dari daratan yang otoriter.

    Tetapi warga Hong Kong dapat mengajukan permohonan agar tinggal di pulau itu melalui berbagai cara, termasuk visa investasi.

    Mantan analis sistem Chow Chung-Ming baru-baru ini memperoleh izin tinggal melalui skema yang membutuhkan investasi TwD6 juta atau Rp2,7 miliar, sebagian kecil dari biaya yang terkait dengan tujuan imigrasi populer lainnya seperti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.

    Pria berusia 41 tahun itu pindah ke Kaohsiung sebagian karena tertarik dengan harga sewa yang lebih rendah, yang telah membantunya mewujudkan mimpi masa kecil membuka kafe kucing pada Juli ini, tetapi juga kebebasan relatif pulau itu.

    "Di Taiwan, kebebasan berbicara ada di masa sekarang. Orang-orang dapat memilih presiden dan anggota parlemen -- hak yang tidak dimiliki warga Hong Kong dan saya tidak melihat peluang untuk memilikinya," kata Chow.

    Protes di Hong Kong meletus sebagai tanggapan terhadap rancangan undang-undang yang akan memungkinkan ekstradisi ke daratan, tetapi bergulir menjadi tuntutan untuk kebebasan yang lebih besar di kota semi-otonom tersebut.

    Beijing secara resmi mendukung kebijakan yang disebut "satu negara, dua sistem" di Hong Kong, yang memungkinkan kebebasan dan aturan hukum kota yang lebih besar. Tetapi pengunjuk rasa berpendapat bahwa secara bertahap itu telah terkikis.

    Jaminan 50 tahun untuk status itu akan berakhir pada 2047, dengan banyak warga Hong Kong yakin kebebasan mereka akan terus menyusut sampai kota sepenuhnya terserap ke daratan.

    "Saya pikir pengetatan kebebasan akan berlanjut di Hong Kong sampai menjadi 'satu negara, satu sistem'," kata Chow.

    Kepergian warrga Hong Kong ke luar negeri saat ini digambarkan oleh sebagian orang sebagai "gelombang ketiga", setelah banyak penduduk pergi ke luar negeri menjelang serah terima Inggris tahun 1997 dan, dalam jumlah yang lebih kecil, setelah kegagalan 2014 "Gerakan Payung" pro-demokrasi.

    Pengusaha Suki Lui secara teratur berpartisipasi dalam protes pro-demokrasi, tetapi dia sekarang berencana untuk pindah ke Taiwan, berharap memberi putrinya yang berusia dua tahun masa depan lebih baik.

    "Emosi saya telah melalui begitu banyak pasang-surut dan saya merasa telah mengalami lebih banyak emosi daripada yang bisa saya tangani," kata pria 37 tahun itu.

    "Saya berharap dia bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, bisa menikmati kebebasan, dapat mewujudkan mimpinya di masa depan. Saya harap dia bisa memilih dan tinggal di kota dengan harapan," tukasnya.

    Taiwan harapan baru


    Tetapi bahkan mereka yang pindah ke Taiwan akan hidup di bawah awan yang dilemparkan oleh Tiongkok.

    Beijing melihat pulau yang diperintah sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya dan telah berjanji merebutnya, dengan kekerasan jika perlu, meskipun keduanya telah diperintah secara terpisah selama tujuh dekade terakhir.

    Presiden Tsai Ing-wen, yang menjabat pada 2016, menolak untuk mengakui bahwa pulau itu adalah bagian dari "satu Tiongkok" dan telah berulang kali menyuarakan dukungan untuk para demonstran pro-demokrasi Hong Kong.

    Sebagai tanggapan, Beijing sudah meningkatkan tekanan ekonomi dan militer terhadap Taiwan dan merampas banyak sekutu diplomatik pulau yang tersisa.

    Tsai menghadapi pemilu pada Januari melawan seteru yang mendukung hubungan lebih hangat dengan Beijing dan menyebut pemilu mendatang sebagai "perjuangan demi kebebasan dan demokrasi".

    Beberapa warga Hong Kong yang telantar berharap pulau itu akan memperhatikan pelajaran dari kerusuhan di kota asal mereka.

    "Saya belum bisa memilih tetapi saya berharap orang-orang akan memilih seseorang yang bisa melindungi Taiwan," kata Chow.

    Phoenix Law, 30, mengatakan dia pindah ke Taiwan pada September karena tertarik akan kebebasan yang lebih besar di pulau itu.

    "Jika orang (di Taiwan) tidak menerima apa yang dilakukan presiden, mereka dapat menolak," katanya.

    "Saya harap orang-orang Taiwan bersiaga setelah melihat situasi di Hong Kong. Jangan mempercayai Partai Komunis Tiongkok, apa yang mereka katakan mungkin terdengar bagus tapi itu semua bohong," pungkasnya.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id