comscore

Militan ISIS Selandia Baru akan Dihukum jika Pulang

Marcheilla Ariesta - 04 Maret 2019 18:14 WIB
Militan ISIS Selandia Baru akan Dihukum jika Pulang
Tentara Kurdi menahan militan ISIS di kamp terakhir mereka. (Foto: AFP).
Wellington: Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan akan menghukum warganya yang bergabung dengan kelompok Islamic State (ISIS). Pernyataan ini ditujukan untuk mantan tentara Negeri Kiwi yang ditahan di sebuah penjara Suriah karena bergabung ISIS.
 
Mark Taylor merupakan mantan tentara Selandia Baru yang menjadi penjaga perbatasan ISIS sebelum menyerah kepada pasukan Kurdi. Taylor dikenal juga dengan nama Mohammad Daniel atau Abu Abdul Rahman.
 
Dia membakar paspor Selandia Baru miliknya usai pergi ke Suriah untuk bergabung menjadi militan ISIS. Dia bergabung dengan ISIS pada 2014.
 
Ardern mengatakan Wellington tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Suriah. Dia menambahkan sudah sangat jelas bahwa warga negaranya tidak boleh pergi ke Suriah, terlebih bergabung dengan ISIS.
 
“Bergabung dengan ISIS sudah jelas melanggar hukum dan tindakan Taylor berpotensi mendapat hukuman,” imbuhnya.
 
PM Ardern menuturkan keselamatan warga negara Selandia Baru adalah perhatian pemerintah. Dia juga yakin pemerintah akan menjaga keamanan Negeri Kiwi tersebut.
 
Dia mengatakan saat ini, Taylor perli melakukan kontak dengan perwakilan Selandia Baru di Turki. Ardern mengaku tidak mengetahui kondisi Taylor di penjara.
 
Baca: Asap Hitam Membubung Tinggi dari Markas Terakhir ISIS

“Pemerintah tidak memiliki hubungan dengan orang-orang yang menahannya,” ungkap dia.
 
Ardern tidak mengatakan jika keluarga Taylor telah melakukan kontak dengan pemerintah. Namun, dia menuturkan akan memfasilitasi Taylor jika dia ke Turki dan melapork ke perwakilan Selandia Baru.
 
Taylor tinggal di Australia selama 20 tahun. Dalam wawancara dengan ABC, dia mengatakan menyukai waktunya saat bersama dengan ISIS. Pasalnya, kata Taylor, ISIS memperkenalkannya dengan cara hidup berbeda.
 
Dia mengatakan awalnya mengajar bahasa Inggris, namun akhirnya dia membuat video propaganda usai dicurigai sebagai mata-mata.
 
“Saya sebenarnya menyesal membuat video itu dan saya tahu hasilnya tidak baik untuk saya, dan tahu jika saya bisa menghabiskan waktu di penjara karena membuat video itu,” kata Taylor dalam wawancara tersebut.
 
“Saya membantu menjaga perbatasan antara ISIS dengan pemerintah Suriah. Saya memiliki (senapan) Kalashnikov,” imbuhnya.
 
Taylor mengklaim dia hanya menggunakan senapan tersebut untuk latihan saja.
 
Mantan tentara itu dinyatakan sebagai Teroris Global Khusus oleh Amerika Serikat. Dia mengklaim saat ini telah menghubungi pemerintah Selandia Baru untuk mencoba mendapatkan paspor Negeri Kiwi itu lagi.
(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id