Polisi Hong Kong Ancam Gunakan Peluru Tajam

    Willy Haryono - 18 November 2019 06:26 WIB
    Polisi Hong Kong Ancam Gunakan Peluru Tajam
    Kobaran api dari barikade besar menyala di area kampus universitas Polytechnic University atau PolyU di Hong Kong, Minggu 18 November 2019. (Foto: AFP/ANTHONY WALLACE)
    Hong Kong: Kepolisian Hong Kong, Senin 18 November 2019, mengancam akan menggunakan "peluru tajam" terhadap demonstran pro-demokrasi dalam pengepungan di kampus sebuah universitas yang telah berlangsung sejak akhir pekan kemarin.

    Ancaman ini merupakan kali pertama dari Kepolisian Hong Kong dalam gelombang protes yang telah berjalan selama enam bulan.

    Unjuk rasa di Hong Kong sudah berlangsung sejak Juni, yang awalnya dipicu Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Demonstrasi terus berlanjut meski RUU Ekstradisi telah dicabut, dan kini meluas menjadi perjuangan menegakkan demokrasi Hong Kong dari pengaruh Tiongkok.

    Tiongkok telah berulang kali memperingatkan pedemo Hong Kong untuk tetap menjaga ketertiban. Ada wacana Beijing dapat mengirim pasukan militernya untuk mengakhiri kekacauan di Hong Kong.

    Minggu 17 November kemarin, seorang polisi terkena tembakan anak panah di bagian kaki saat sedang mengepung universitas Hong Kong Polytechnic University (PolyU) di distrik Hung Hom.

    Aparat keamanan merespons serangan pengunjuk rasa dengan menembakkan gas air mata dan meriam air. Demonstran membakar barikade untuk menghalangi polisi memasuki area kampus PolyU.

    Selain menembakkan panah, para pedemo di area kampus juga melontarkan batu bata dan bom molotov ke arah polisi.

    Polisi mendeklarasikan situasi di sekitar kampus PolyU sebagai sebuah "kerusuhan." Juru bicara Kepolisian Hong Kong Louis Lau melayangkan peringatan keras via tayangan langsung Facebook.

    "Saya memperingatkan para perusuh untuk tidak menggunakan bom molotov, anak panah atau senjata mematikan lainnya kepada polisi," ungkap Lau, dikutip dari AFP.

    "Jika aksi berbahaya itu terus berlanjut, maka kami tidak punya pilihan selain menggunakan kekuatan, termasuk peluru tajam, untuk membalas," lanjutnya.

    Sejumlah pengunjuk rasa mengaku ketakutan karena hingga kini masih belum bisa keluar dari area kampus PolyU. "Saya takut. Tidak ada jalan keluar. Saat ini saya hanya bisa berjuang hingga akhir," sebut seorang demonstran di area kampus.

    Owen Li, seorang mahasiswa dan juga anggota dewan PolyU, mengatakan ada sebagian pedemo yang "panik" karena ada begitu banyak polisi di sekitar kampus.

    "Banyak teman kami merasa tidak berdaya. Kami meminta masyarakat untuk keluar dan membantu kami," tutur Li.

    Aksi kekerasan di Hong Kong memburuk dalam beberapa hari terakhir, dengan adanya dua pria yang tewas dalam dua insiden terpisah terkait gelombang unjuk rasa bulan ini.

    Presiden Tiongkok Xi Jinping telah mengomentari situasi di Hong Kong, dengan mengatakan bahwa demonstrasi mengancam model "Satu Negara, Dua Sistem" yang diberlakukan sejak Hong Kong diserahkan dari Inggris ke Beijing pada 1997.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id