Sri Lanka Bersiap Hadapi Tumpahan Minyak Kapal Kargo Singapura

    Fajar Nugraha - 04 Juni 2021 05:06 WIB
    Sri Lanka Bersiap Hadapi Tumpahan Minyak Kapal Kargo Singapura
    Kapal MV X-Press Pearl yang terbakar di laut Sri Lanka. Foto: AFP



    Kolombo: Sri Lanka bersiap untuk kemungkinan tumpahan minyak setelah sebuah kapal kargo yang sarat dengan bahan kimia tenggelam di lepas pantai baratnya. Insiden ini telah menjadi bencana lingkungan buatan manusia terburuk di negara itu.

    MV X-Press Pearl yang terdaftar di Singapura, membawa 1.486 kontainer, termasuk 25 ton asam nitrat bersama dengan bahan kimia dan kosmetik lainnya. Kapal itu berlabuh di kota pelabuhan Negombo ketika kebakaran meletus di atas kapal setelah ledakan pada 20 Mei.

     



    Kontainer menyala yang diisi dengan bahan kimia jatuh ke laut dari dek kapal saat kru darurat berusaha menahan kobaran api selama dua minggu berikutnya.

    Kapal yang baru berusia empat bulan itu mulai tenggelam pada Rabu dini hari, dan kru penyelamat mencoba menarik kapal ke perairan yang lebih dalam, jauh dari pantai. Tetapi upaya itu dibatalkan setelah bagian belakang kapal menyentuh dasar laut.

    Operator kapal, X-Press Feeders mengatakan, dalam sebuah pernyataan pada Kamis bahwa masih belum ada tanda-tanda tumpahan bahan bakar minyak dari kapal, dan banyak muatan beracun telah dibakar dalam api.

    "Salvors tetap berada di lokasi untuk menangani kemungkinan puing-puing yang didukung oleh Angkatan Laut Sri Lanka dan Penjaga Pantai India, yang memiliki kemampuan tanggap tumpahan minyak dalam keadaan siaga," kata pernyataan itu, seperti dikutip AFP, Jumat 4 Juni 2021.

    Kepala Pelabuhan Sri Lanka Nirmal Silva mengatakan, tidak ada minyak yang bocor dalam 36 jam terakhir.

    “Melihat cara kapal terbakar, pendapat ahli adalah bahwa minyak bunker mungkin telah terbakar. Tetapi kami sedang mempersiapkan skenario terburuk,” kata Silva.

    Gelombang tinggi, hujan, dan angin kencang membuat para ahli penyelamat tidak bisa naik ke kapal untuk menilai apakah kapal itu bisa diapungkan kembali dan dipindahkan lebih jauh ke laut, tambahnya.

    Tetapi foto-foto dari penjaga pantai negara itu menunjukkan lapisan film hijau menyelimuti lautan di sekitar kapal, dan jutaan pelet plastik telah mengotori pantai dan daerah penangkapan ikan di sekitarnya. Kondisi tersebut memaksa pemerintah untuk melarang penangkapan ikan di sepanjang 80 kilometer pantai.

    “Dari sudut pandang lingkungan, ini adalah bencana buatan manusia terburuk di Sri Lanka,” kata Charitha Pattiaratchi, profesor oseanografi pesisir di University of Western Australia.

    Pemodelan universitas menunjukkan pelet plastik dari kapal - bahan baku untuk tas belanja - akan melakukan perjalanan sejauh Indonesia, India dan Somalia, tambahnya.

    Pusat Keadilan Lingkungan (CEJ) swasta Sri Lanka khawatir bencana itu juga dapat menyebabkan polusi logam berat. Kapal itu membawa 81 kontainer "kargo berbahaya" termasuk asam dan ingot timah.

    "Ada sup kimia di wilayah laut itu. Kerusakan ekosistem laut tidak terhitung,” kata Direktur Eksekutif CEJ, Hemantha Withanage kepada AFP.

    Namun, dia mengatakan hikmahnya adalah belum ada tanda-tanda tumpahan minyak. Beberapa minyak terlihat di dekat pantai Negombo, sekitar 40 kilometer dari Kolombo, tetapi penyebabnya tidak jelas.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id