Hasilkan Banyak Plutonium, Tiongkok Dinilai Mampu Buat Senjata Nuklir

    Marcheilla Ariesta - 22 April 2021 14:54 WIB
    Hasilkan Banyak Plutonium, Tiongkok Dinilai Mampu Buat Senjata Nuklir
    Deretan senjata yang dipajang Tiongkok di Beijing. Foto: AFP



    Beijing: Sebuah fasilitas tenaga nuklir generasi baru yang dikembangkan Tiongkok, dapat menghasilkan plutonium dalam jumlah besar. Kepala Komando Strategis Amerika Serikat (AS) mengatakan Tiongkok dapat membuat senjata nuklir dengan hasil tersebut.

    Tiongkok tengah mengembangkan reaktor pembiak cepat dan fasilitas pemrosesan ulang untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara, sumber utama emisi karbon. Namun, pabrik itu juga menghasilkan plutonium yang bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir.






    Reaktor pembiak cepat (FBR) pertama diproyeksikan akan beroperasi pada 2023.

    "Dengan reaktor pembiak cepat, Anda sekarang memiliki sumber plutonium tingkat senjata yang sangat besar, yang akan mengubah batas atas apa yang dapat dipilih Tiongkok jika mereka mau. Dalam hal ini perluasan lebih lanjut dari kemampuan nuklir mereka," tutur Laksamana Angkatan Laut Charles Richard yang merupakan komandan Komando Strategis AS, dilansir dari The Straits Times, Kamis, 22 April 2021.

    Tidak ada bukti bahwa Beijing bermaksud mengalihkan potensi cadangan plutoniumnya ke penggunaan senjata. Namun, kekhawatiran berkembang karena Tiongkok diperkirakan akan menggandakan jumlah hulu ledak nuklirnya selama beberapa dekade berikutnya.

    Negeri Tirai Bambu mengatakan, program nuklirnya dibuat untuk tujuan damai. Namun, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington belum menanggapi permintaan komentar.

    Bulan lalu, sebuah laporan mengatakan Beijing telah memulai membangun pabrik kedua untuk memproses ulang bahan bakar nuklir bekas yang dapat digunakan sebelum 2030.

    Richard menegaskan para pejabat AS baru-baru ini mengetahui mengenai seberapa cepat Beijing bergerak untuk membangun program nuklir sipilnya.

    "Sekitar sepekan lalu kami menyadarinya dan memulai proses untuk memahami implikasinya," tutur Richard.

    Christopher Ford, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan para pejabat tidak dapat berbuat banyak mengenai masalah ini selain mengecamnya.

    "AS harus menunjukkan betapa tidak stabilnya hal itu di kawasan dan memberikan tekanan tentang Tiongkok untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu secara ekonomi dan berbahaya secara strategis," pungkasnya.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id