ABK WNI Dinilai Rentan Jadi Korban Perbudakan

    Marcheilla Ariesta - 14 Mei 2020 21:01 WIB
    ABK WNI Dinilai Rentan Jadi Korban Perbudakan
    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bertemu 14 ABK WNI korban perbudakan di kapal ikan Tiongkok. (Foto: Dok. Kemenlu RI).
    Jakarta: Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hariyanto Suwarno mengatakan anak buah kapal (ABK) asal Indonesia rentan mendapat perbudakan. Kerentanan ini semakin berlipat ketika mereka bekerja di kapal asing.

    "ABK memiliki kerentanan berlipat, karena di situ ada peran yang kemudian membuat penempatan para ABK ini hanya bisnis semata," kata Hariyanto dalam webinar 'Perlindungan ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing', Kamis 14 Mei 2020.

    SBMI juga mencatat berbagai perbudakan modern di atas kapal yang dialami pada ABK tersebut, seperti eksploitasi fisik, psikologis, seksual, dan bahkan ekonomi. Kondisi ini, menurutnya, diperparah dengan adanya ego sektoral kementerian dan lembaga yang kerap terjadi.

    Menurutnya hal tersebut hanya membuat penanganan para ABK tidak sejalan. Ini juga membuat regulasi yang sudah ada tidak berjalan efektif.

    "Penegakan hukum yang masih lemah tidak memberi efek jera kepada para pelaku bisnis penempatan yang kotor," imbuh dia.

    Dalam kesempatan tersebut, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha juga membenarkan hal tersebut. Judha sepakat jika masih ada ego sektoral di Kementerian/Lembaga yang membuat perlindungan WNI tidak maksimal.

    Judha menuturkan insiden di Kapal Long Xing 629 terhadap para ABK WNI dianggap sebagai fenomena gunung es.

    "Ini sebetulnya fenomena gunung es, Kapal Long XIng ini satu dari banyak kasus yang kita hadapi," ujar Judha.

    Pada 2017, Kemenlu mencatat ada 1.126 kasus perbudakan ABK WNI di kapal ikan asing. Angka tersebut terus bertambah di 2018 menjadu 1.256 kasus.

    Menurut Judha, kasus yang terjadi di Long Xing 269 bisa menjadi pemicu untuk menyelesaikan kasus-kasus lainnya. Terlebih saat ini, seluruh ABK WNI di kapal tersebut sudah kembali ke Indonesia.

    Indonesia saat ini memegang komitmen Tiongkok untuk mengusut perbudakan yang menimpa para WNI. Dia berharap agar kerja sama dapat berjalan lancar dan kasus tersebut bisa diatasi.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id