comscore

Tutup Perbatasan 2 Tahun, Taiwan Didorong untuk Hidup Bersama Covid-19

Medcom - 14 Februari 2022 14:01 WIB
Tutup Perbatasan 2 Tahun, Taiwan Didorong untuk Hidup Bersama Covid-19
Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih-chung. (AFP)
Taipei: Berbagai kritik dilayangkan terhadap kebijakan 'nol kasus' yang diterapkan Taiwan dalam menangani pandemi Covid-19. Virus tersebut dinilai tidak akan dapat dihilangkan sepenuhnya, dan sejumlah negara kini mulai memperlakukan Covid-19 sebagai endemi.

Ditanya mengenai langkah penanganan Covid-19 pada Januari lalu, Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih-chung menyatakan, "tujuan kami tetap kembali ke nol (kasus harian Covid-19)," dilansir dari The Straits Times, Senin, 14 Februari 2022.
Chen mengakui bahwa strategi nol kasus merupakan hal yang sulit dilakukan dan belum tentu dapat dicapai. Namun Taiwan masih akan tetap melakukannya, dengan mengupayakan tingkat vaksinasi yang tinggi di tengah masyarakat.

Menurutnya, Taiwan tidak mungkin hidup berdampingan dengan Covid-19 seperti sejumlah negara yang kini mulai melonggarkan berbagai pembatasan dan aturan.

Berbeda dengan Chen, Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang sempat menyuarakan kemungkinan memperlakukan Covid-19 sebagai endemi. 

Peraturan ketat yang diterapkan Taiwan berhasil menekan kasus dan kematian Covid-19 tetap berada di angka yang rendah. Hingga Sabtu kemarin, Taiwan mencatat total 19.567 kasus dan 851 kematian sejak awal pandemi.

Strategi 'nol kasus' telah diberlakukan Taiwan sejak Januari 2020, ketika pandemi mulai menyebar di pulau tersebut.

Tingkat vaksinasi dua dosis Taiwan telah melebihi angka 70 persen. Namun sekitar 60 persen dari total penerbangan di Taiwan telah dihentikan sejak awal pandemi.

Baca:  Taiwan Konfirmasi 25 Kasus Covid-19 dari Klaster Bandara Internasional

Hanya warga negara Taiwan, pelajar internasional tertentu, pasangan asing dari warga Taiwan dan anak-anaknya, serta pekerja migran dari Indonesia dan Thailand yang diperbolehkan masuk ke Taiwan.

Hingga bulan ini, masih berlaku kewajiban karantina dua minggu di hotel atau fasilitas lainnya di Taiwan. Setelah karantina, seseorang harus mengikuti "periode pemantauan kesehatan" selama sepekan.

Kebijakan ini membuat kunjungan dari luar negeri ke Taiwan menurun drastis. Akibatnya, sejumlah hotel terpaksa berhenti beroperasi, dan penyedia jasa wisata mengubah target pasarnya menjadi wisatawan lokal.

Sejumlah pengamat mengkritik kebijakan 'nol kasus' tidak lagi realistis di tengah munculnya Omicron yang tingkat penularannya lebih tinggi dari varian lain.

"Dengan adanya rapid test, vaksinasi, dan obat-obatan untuk melawan virus, sudah tidak lagi realistis untuk memperjuangkan nol kasus. (Taiwan) harus bersiap untuk hidup berdampingan dengan virus," ujar ahli epidemiologi Chen Chien-jen, yang juga mantan wakil presiden Taiwan.

"Mengurangi kasus sampai nol adalah target yang sangat ekstrem," kata Han Yang, seorang peneliti dari Institut Ekonomi Academia Sinica. (Kaylina Ivani)

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id