Vanuatu Sulit Pulih dari Badai Akibat Wabah Korona

    Arpan Rahman - 14 Mei 2020 13:41 WIB
    Vanuatu Sulit Pulih dari Badai Akibat Wabah Korona
    Warga di Vanuatu saat memeriksa rumah mereka yang hancur akibat Badai Harold. Foto: Dr. Christopher Bartlett/Al Jazeera
    Port Vila: Ribuan keluarga masih kehilangan tempat tinggal setelah Topan Harold menghancurkan properti senilai USD100 juta atau setara Rp1,48 triliun.

    Sudah lebih dari sebulan sejak Topan Harold merobek beberapa negara di Pasifik Selatan, dengan Vanuatu menanggung beban terbesar dari angin puyuh Kategori 5 itu. Topan itu menghancurkan ribuan rumah, mengungsikan sekitar setengah dari 300.000 penduduk negara itu dan menghancurkan hasil panen.

    Sejak keadaan darurat diumumkan pada awal April, negara di tengah Samudera Pasifik ini terus berjuang.  Kekurangan tenaga kerja dan sarana keuangan yang terbatas untuk membantu upaya pemulihan, penduduk Vanuatu kini meminta bantuan keuangan mendesak.

    Bantuan internasional sulit didapat, sisa dunia masih bergulat dengan pandemi virus korona, yang kini telah mencapai 212 negara dan wilayah.

    Sementara Vanuatu telah terhindar dari efek langsung dari darurat kesehatan global dengan nol kasus yang dilaporkan, sumber daya untuk para korban topan juga langka karena penutupan menyeluruh atau lockdown akibat virus korona. Mereka yang berada di lapangan menolong dengan bantuan sekadarnya demi pemulihan.

    Glen Craig, yang memimpin Dewan Ketahanan Bisnis Vanuatu di ibu kota Port Vila, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kerusakan pada properti, pariwisata, dan pertanian di negara itu dapat mencapai USD100 juta. Setidaknya tiga orang tewas di Vanuatu, sementara beberapa orang lainnya tewas di bagian lain wilayah itu.

    “Kami bekerja dengan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memimpin upaya bantuan. Untuki kami meminta USD1 juta dalam pendanaan untuk menjaga agar kelompok relawan tetap beroperasi,” ujar Craig, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu, 13 Mei 2020.

    “Di beberapa daerah di pulau utara Espiritu Santo dan Pentecost, setidaknya 95 persen rumah hancur total dan sekitar 10.000 keluarga kehilangan tempat tinggal,” kata Craig.

    Pada pertengahan April, PBB mengeluarkan USD2,5 juta dari dana kemanusiaan darurat untuk membantu para korban, diikuti Bank Dunia. Bank Dunia sendir sudah mengeluarkan USD10 juta untuk bantuan bencana dan upaya penanggulangan virus korona pemerintah.

    Australia dan Selandia Baru juga telah memperluas bantuan keuangan, serta bantuan bantuan ke Vanuatu dan negara-negara Pasifik lainnya yang terkena dampak badai.

    Craig mengatakan organisasinya masih beroperasi dengan anggaran USD20.000, tetapi dapat meningkatkan kerjanya dengan bantuan keuangan dari donor. "Kami setidaknya bisa mendapatkan produk lokal dan pasokan lokal, dan kita tempat tinggal yang bisa kami sumberkan secara lokal," katanya.

    Di beberapa bagian pulau Espiritu Santo, di mana organisasi Craig adalah kelompok luar pertama yang datang dan memberikan bantuan, ia menggambarkan masyarakat diratakan oleh topan, tiang listrik terputus di pangkalan, dan atap bangunan industri robek.

    "Sangat menyedihkan, sangat sedih, dan kita benar-benar masih membutuhkan banyak bantuan," pungkasnya.






    Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id