comscore

Pengamat: Tiongkok Bisa Dianggap Ancaman Besar Bagi Taliban

Fajar Nugraha - 20 November 2021 19:06 WIB
Pengamat: Tiongkok Bisa Dianggap Ancaman Besar Bagi Taliban
Mantan Penasihat Komunikasi Strategis dan Hubungan Internasional di Badan Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan, Mariam Wardak. Foto: FPCI
Jakarta: Mantan Penasihat Komunikasi Strategis dan Hubungan Internasional di Badan Penasihat Keamanan Nasional Afghanistan, Mariam Wardak sebut ada berbagai masalah bagi Taliban menjalankan kebijakan luar negeri. Keberadaan kelompok teroris salah satu diantaranya.

Menurut Wardak Taliban tidaklah kohesif seperti yang telah diperlihatkan selama masa perang. Perpecahan tampak dari negosiasi Doha di mana dihadiri oleh kelompok Taliban yang lebih moderat dan mereka melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).
Baca: Layaknya Benda Tak Berharga, Afghanistan Kerap Dianggap Remeh.

Kemudian ada kelompok garis keras bersama dengan sekutu ideologisnya. Pemerintahan sementara saat ini di Afghanistan memperlihatkan kelompok garis keras tampak lebih berkuasa daripada kelompok Doha.

“Kini tampak sosok Mullah Abdul Ghani Baradar berada dibawah dari kelompok garis keras yang dipimpin oleh klan Sirajudin Haqqani. Baradar adalah kepala negosiator Taliban dengan AS. Dia juga beberapa kali diperkirakan akan memimpin Afghanistan. Sementara Haqqani adalah sosok yang menjadi teroris internasional paling dicari,” ujar Wardak dalam diskusi 'The Future of Afghanistan and Its Impact on Regional Security' di Global Town Hall 2021, Sabtu, 20 November 2021.

“Keberadaan Al-Qaeda dan ISIS di perbatasan dengan Pakistan, bisa menjadi masalah besar bagi Taliban untuk melaksanakan kebijakan luar negeri. Jika Afghanistan saat ini menjadi pemerintahan yang dikuasai oleh kelompok garis keras, kemungkinan akan mengasingkan tidak hanya kekuatan barat tetapi juga negara-negara di sekitar perbatasan,” jelasnya.

Menurut Wardak kondisi ini akan mempengaruhi hubungan dengan Tiongkok, Rusia dan Iran yang memiliki hubungan strategis dan ekonomi  dengan Pakistan.

Adapun Tiongkok menurut Wardak sepertinya mengincar Afghanistan untuk kepentingan ekonominya dalam konteks Belt and Road Initiative (BRI). Terutama pula karena cadangan mineral Afghanistan yang besar dan belum digarap.

“Namun, Taliban kemungkinan besar akan tetap berkomitmen untuk membantu warga Muslim dan Beijing bisa dianggap sebagai ancaman besar karena catatan genosida yang Tiongkok lakukan di Xinjiang,” tegas Wardak, dalam diskusi GTH 2021 yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Melihat ketegangan yang terjadi di dalam tubuh Taliban terutama dengan permintaan yang banyak. Banyak pemegang kebijakan bertanya-tanya, apabila Taliban bisa mengatasi situasi yang ada saat ini. Jika gagal, bisa membuat seluruh kawasan masuk ke dalam rentetan konflik besar.

Struktur kepemimpinan Taliban sudah sejak lama dipenuhi dengan misteri. Tidak ada yg tahu bagaimana kelompok itu mengatur pemerintahannya.

Tidak ada indikasi kuat apakah dunia internasional bisa memanfaatkan mereka demi kepentingannya. Tapi yang jelas, Wardak mengingatkan bahwa Afghanistan saat ini membutuhkan bantuan dukungan ekonomi.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id