Mencari Pemimpin Selandia Baru dalam Pandemi Covid-19

    Fajar Nugraha - 16 Oktober 2020 18:05 WIB
    Mencari Pemimpin Selandia Baru dalam Pandemi Covid-19
    Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern akan mempertahankan kekuasaannya. Foto: AFP
    Wellington: Jacinda Ardern dan Judith Collins akan bertarung dalam pemilihan umum Selandia Baru pada Sabtu 17 Oktober 2020. Kedua perempuan ini akan bertarung untuk kursi perdana menteri di tengah pandemi covid-19.

    Sebelum pandemi covid-19, Ardern rentan. Meskipun profilnya berkembang di luar negeri, dia menghadapi lebih banyak ulasan beragam di negaranya. Meskipun Ardern telah berjanji untuk memimpin pemerintahan ‘transformasi’, para kritikus yakin bahwa dia telah gagal memenuhi beberapa kebijakan utamanya.

    Baca: Dua Perempuan Kuat Siap Bertarung Demi Kursi PM Selandia Baru.

    Salah satu di antaranya, Ardern telah berjanji untuk membangun 100.000 rumah berkualitas tinggi dan terjangkau dalam 10 tahun untuk mengatasi tunawisma dan pasar properti yang terlalu panas. Tetapi pada September 2019, pemerintah Ardern mengumumkan akan membatalkan target tersebut. Pada Juli 2020, pemerintah mengatakan telah menjual 613 rumah KiwiBuild, sekitar dua persen dari target aslinya.

    Setelah bertahun-tahun berkampanye tentang pajak keuntungan modal yang bertujuan untuk meredam pasar perumahan yang tak terkendali, Ardern mengumumkan tahun lalu bahwa Partai Buruh akan mengesampingkan penerapannya di bawah kepemimpinannya.

    Pada awal tahun ini, satu jajak pendapat memperlihatkan Partai Buruh dan Partai Nasional meraih dukungan pada 43 persen. Sepertinya Partai Nasional memiliki kesempatan untuk menjadi pemerintahan berikutnya, kata Lara Greaves, seorang dosen politik Selandia Baru di Universitas Auckland.

    Kemudian datanglah virus korona. Penanganan pandemi oleh Ardern mengubah permainan. Ketika negara-negara lain -,termasuk tetangganya Australia,- berjuang untuk menahan wabah mereka, Selandia Baru menjaga angka kematiannya relatif rendah. Poling pada Mei menemukan bahwa 86 persen orang menyetujui bagaimana Ardern menangani pekerjaannya sebagai Perdana Menteri.

    Itu membuat Collins dan partainya sedikit ruang untuk bermanuver. Ada beberapa kegagalan yang dapat ditunjukkan oleh Collins, dan bersikap terlalu keras pada Ardern, yang sekarang disetujui oleh kebanyakan orang, dapat menjadi bumerang. Collins malah fokus pada utang Partai Buruh, mengklaim pemerintah Ardern tidak memiliki rencana untuk menangani utang itu.

    "Ini bukan uang Monopoli," katanya dalam salah satu debat.

    "Saya pikir mereka benar-benar terjebak di tempat yang sulit," kata Claire Timperley, pengajar politik Selandia Baru di Victoria University di Wellington, berbicara tentang Partai Nasional yang dipimpin Collins.

    Hasil jajak pendapat untuk Partai Nasional berkutat sekitar 30 persen, sementara mitra koalisi utama mereka, ACT berada di 8 persen. Proyeksi itu berarti mereka masih jauh dari 50 persen yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

    "Saya pikir jika covid-19 tidak terjadi, kami akan berada dalam pemilihan yang ketat," kata pengamat dari University of Auckland Lara Greaves, dikutip dari CNN, Jumat 16 Oktober 2020.

    Partai Nasional pun tidak terbantu oleh banyak perubahan kepemimpinannya. "Ketika Anda memiliki Perdana Menteri yang begitu populer, dan Anda terlihat seperti kelompok yang belum cukup berhasil mereka belum benar-benar memberikan alternatif yang layak,” tegas Greaves.

    Tetapi sementara para ahli mengharapkan Ardern menang, mereka tidak mengharapkannya untuk membawa kebijakan transformasional di masa jabatan keduanya.

    Pemirsa internasional mungkin melihat keputusan Ardern untuk melarang senjata api semi-otomatis setelah serangan teror Christchurch 2019 sebagai tindakan yang berani dan transformasional.

    Namun di Selandia Baru, langkah itu memiliki dukungan luas dan dampak terbatas pada kehidupan sehari-hari rata-rata warga Selandia Baru. Alih-alih, kritikus sayap kiri Ardern ingin melihat lebih banyak penyelesaian untuk masalah yang lebih besar: ketidaksetaraan, kemiskinan anak, perubahan iklim, dan pasar perumahan yang terlalu panas.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id