Presiden Afghanistan Siap Mundur Jika Pemilu Terlaksana

    Willy Haryono - 31 Maret 2021 13:43 WIB
    Presiden Afghanistan Siap Mundur Jika Pemilu Terlaksana
    Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dalam sebuah acara di Kabul pada 19 November 2020. (WAKIL KOHSAR / AFP)



    Dushanbe: Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah memaparkan rencananya untuk perdamaian negeri dalam sebuah konferensi kawasan di Tajikistan. Salah satu poin yang disampaikan Ghani adalah, dirinya siap mundur dari jabatan presiden jika pemilihan umum Afghanistan benar-benar terlaksana.

    Konferensi Tingkat Tinggi Heart of Asia untuk membahas isu Afghanistan digelar saat Amerika Serikat dan beberapa negara lain berusaha mendorong proses perdamaian di negara tersebut.






    Baca:  Tiongkok Serukan Kerja Sama Internasional untuk Perdamaian Afghanistan

    AS dan beberapa negara lain mengusulkan adanya pemerintahan transisi, namun Ghani menolak dan menegaskan bahwa pemilu harus terlebih dahulu terlaksana sebelum dirinya mundur dari jabatan.

    "Saya mendukung penuh opsi menggelar pemilu dalam waktu dekat," kata Ghani dalam KTT Heart of Asia di Dushanbe pada Selasa kemarin.

    "Kehormatan terbesar bagi saya adalah menyerahkan kekuasaan kepada penerus saya yang terpilih secara resmi," sambung dia, dilansir dari laman Al Jazeera pada Rabu, 31 Maret 2021.

    Pekan kemarin, Ghani berencana mengusulkan pemilu Afghanistan dalam kurun waktu enam bulan. Usulan tersebut akan disampaikan sebagai bentuk penolakan terhadap proposal AS mengenai pemerintah transisi.

    Ghani, yang menjadi presiden Afghanistan pada 2014 dan dilantik untuk kali kedua tahun lalu, menyebutkan beberapa detail dari rencananya. Ia mengatakan saat solusi politik tercapai, maka hal tersebut akan didukung sebuah majelis Afghanistan bernama Loya Jirga. Setelah itu, gencatan senjata akan digelar di Afghanistan dengan diawasi komunitas internasional.

    Sejauh ini kelompok militan Taliban menolak gencatan senjata, dan mereka juga tidak mau bergabung langsung dengan pemerintahan interim.

    KTT di Dushanbe pada Selasa kemarin merupakan satu dari serangkaian pertemuan tingkat tinggi mengenai isu Afghanistan. Belum lama ini, AS mengusulkan pembentukan pemerintah transisi -- disebut dengan "pemerintahan perdamaian" -- yang akan diisi oleh tokoh-tokoh pemerintah Afghanistan dan Taliban.

    Di bawah rencana ini, sebuah konstitusi baru akan dibuat, dan kekuasaan akan ditransfer ke pemerintahan permanen setelah pemilu.

    Sementara itu, aksi kekerasan kembali meningkat di Afghanistan seiring tersendatnya dialog damai pemerintah dan Taliban di Doha, Qatar. Salah satu isu penting yang masih didiskusikan adalah bagaimana jalannya pemerintahan setelah perjanjian damai tercapai di masa mendatang.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id