Dua Dubes Paparkan Teknologi Lacak Covid-19 di Singapura dan Tiongkok

    Marcheilla Ariesta - 05 Januari 2021 22:07 WIB
    Dua Dubes Paparkan Teknologi Lacak Covid-19 di Singapura dan Tiongkok
    Dubes RI di Singapura Suryopratomo. Foto: BNPB.
    Singapura: Duta Besar RI untuk Singapura Suryopratomo menuturkan jika Indonesia harus bisa melakukan pelacakan digital (digital tracing) seperti di Singapura. Menurut dia, dengan digital tracing ini, mempermudah mengetahui mereka yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi virus korona (covid-19).

    "Kemarin kita sudah mencoba di KBRI (Singapura) dan berhasil, sudah kita kirimkan juga (alat pelacak) ke BNPB untuk diujicobakan," kata Suryopratomo dalam diskusi dengan Satgas Penanganan Covid-19, Selasa, 5 Januari 2021.

    "Harapan kita adalah, kami sepakat jika alat contact tracing ini efektif, kita akan mengaplikasikan di beberapa daerah," imbuhnya.

    Digital tracing adalah langkah yang dilakukan Singapura untuk memudahkan mengetahui jika ada orang yang terinfeksi covid-19. Jika ada yang melakukan kontak dekat dengan orang terinfeksi tersebut, makan ambulans akan menjemput tanpa memberitahu terlebih dahulu.

    "Harapan kita, contact tracing, testing, dan isolasi mandiri harus dilakukan oleh seluruh kabupaten dan kota," tutur Tommy, panggilan Suryopratomo.

    Tommy meminta agar jangan semua dibebankan ke pemerintah pusat atau satgas covid-19. Menurut dia, harus ada kerja sama, gotong royong dari semua pihak.

    "Kalau dari semua kabupaten/kota itu hands on, betul-betul menjalankan pengawasan dan menerapkan digital tracing dan testing yang benar, dan dilakukan karantina ke mereka yang positif covid-19, kita bisa sebenarnya (menurunkan kurva infeksi)," imbuh Tommy.

    Perlu diberikan target, kata Tommy, untuk menurunkan kurva infeksi. Cara menurunkannya, imbuh dia, dengan pelacakan digital, pengujian, dan isolasi mandiri.

    Mantan jurnalis ini juga menuturkan, kabupaten/kota yang berhasil menurunkan kurva infeksi, harus diberi hadiah oleh pemerintah pusat. Sedangkan mereka yang gagal harus dihukum.

    "Kalau kurva tidak bisa diturunkan, upaya vaksinasi itu sulit untuk bisa kita laksanakan," tegasnya.

    Baca juga: Langgar Peraturan Isolasi di Singapura Didenda Hingga Rp105 Juta

    Tak hanya di Singapura, Tiongkok juga melakukan hal yang sama. Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun menuturkan jika pelacakan digital sangat membantu.

    Di Tiongkok, pelacakan digital menggunakan ponsel pintar yang dimiliki semua orang dan selalu dibawa. Namun, untuk bepergian dari satu kota ke kota lain, diharuskan mengunduh aplikas tracing yang dimiliki kota tersebut.

    "Seperti yang dilakukan di Singapura, jika ketahuan yang kena covid-19 ke mana saja dan bertemu dengan siapa saja, langsung dijemput (untuk pengujian)," tuturnya.

    "Ini yang terjadi dengan WNI yang ada di Beijing (terinfeksi covid-19). Jadi digital tracing sangat bermanfaat," sambungnya.

    Seorang WNI dilaporkan terinfeksi virus korona (covid-19) di Beijing. Ia teridentifikasi sebagai satu kasus baru di ibu kota Tiongkok tersebut.

    Dubes Djauhari menuturkan WNI tersebut merupakan kasus impor karena datang dari Indonesia. Ia kembali ke Tiongkok untuk bekerja.

    Pria itu dilaporkan merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG). Kini dia sudah berada di rumah sakit khusus covid-19 dan dalam keadaan baik.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id