Korut Kecam Pencabutan Perjanjian Misil Balistik AS-Korsel

    Willy Haryono - 31 Mei 2021 14:17 WIB
    Korut Kecam Pencabutan Perjanjian Misil Balistik AS-Korsel
    Presiden AS Joe Biden (kanan) dan Presiden Korsel Moon Jae-in dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington pada 21 Mei 2021. (Brendan SMIALOWSKI / AFP)



    Pyongyang: Korea Utara mengecam pencabutan sebuah perjanjian antara Amerika Serikat dan Korea Selatan yang mengatur mengenai batas jarak tempuh dan berat misil balistik Korsel. Menurut Korut, pencabutan perjanjian itu merupakan bagian dari kebijakan bermusuhan Washington terhadap Pyongyang.

    "AS, yang selama ini menyebut langkah pertahanan diri DPRK sebagai pelanggaran resolusi PBB, kini telah membiarkan sekutunya memiliki misil dalam jumlah yang tak terbatas," ungkap sebuah artikel yang ditulis oleh seorang kritikus bernama Kim Myong Chol di Korean Central News Agency atau KCNA pada Senin, 31 Mei 2021.

     



    "Mereka tetap mengundang konfrontasi terlepas dari janji manis untuk berdialog," sambungnya. DPRK merujuk pada akronim dari nama resmi Korut.

    Menurut Kim, banyak negara kini memandang kebijakan kunci AS terhadap Korut, yang dilabeli sebagai "pendekatan pragmatis" dan "fleksibilitas maksimal," hanyalah tipu daya belaka.

    Kritik keras dari Korut dilayangkan lebih dari satu pekan usai pertemuan antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden Korsel Moon Jae-in di Washington. Dalam pertemuan, kedua pemimpin sepakat menggunakan diplomasi untuk menyelesaikan isu nuklir di Semenanjung Korea.

    Baca:  Antony Blinken Minta Korea Utara Kembali ke Meja Negosiasi

    Biden dan Moon juga sepakat menghapus semua pembatasan "panduan misil" terkait aturan jarak tempuh dan berat dari hulu ledak misil balistik Korut.

    Dialog denuklirisasi antara AS dan Korut terhenti sejak berakhirnya Konferensi Tingkat Tinggi antara mantan presiden Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un di Hanoi pada Februari 2019. Pyongyang menegaskan pihaknya tidak mau kembali berdialog hinga AS berhenti menerapkan kebijakan "bermusuhan."

    Pada 30 April lalu, pemerintahan Biden mengaku akan mendorong "pendekatan praktis dan terkalibrasi" terhadap Korut. Namun Korut meyakini itu hanya akal-akalan, dan Biden tetap akan menjalankan pendekatan "bermusuhan" seperti di era Trump.

    Pembatasan misil Korsel yang dibuat AS pertama kali diperkenalkan pada 1979 di saat Seoul berusaha mendapatkan teknologi misil Washington demi pengembangan di dalam negeri. Korsel sepakat untuk membatasi jarak tempuh maksimal misil hingga 180 kilometer dengan berat tertinggi 500 kilogram.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id