Virus Korona Ditemukan di Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

    Arpan Rahman - 15 Mei 2020 10:55 WIB
    Virus Korona Ditemukan di Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh
    Pengungsi Rohingya terancam terpapar dengan virus korona. Foto: AFP
    Cox's Bazar: Virus korona (covid-19) terdeteksi di salah satu kamp di Bangladesh selatan yang menampung lebih dari satu juta pengungsi Rohingya

    Seorang pengungsi etnis Rohingya dan seorang warga setempat dinyatakan positif covid-19. Itu adalah kasus pertama yang dikonfirmasi di kamp berpenghuni padat ketika sejumlah kelompok kemanusiaan memperingatkan infeksi itu dapat menghancurkan pemukiman yang ramai.

    "Hari ini, mereka telah dibawa ke pusat isolasi setelah dinyatakan positif," kata Mahbub Alam Talukder, komisaris bantuan dan repatriasi pengungsi, melalui telepon, dilansir dari Al Jazeera, Jumat 15 Mei 2020.

    Juru Bicara WHO di Bangladesh, Catalin Bercaru mengatakan, pasien lain berasal dari ‘populasi biang’, sebuah istilah yang biasanya digunakan untuk merujuk pada penduduk setempat yang tinggal di luar kamp.

    "Satu pasien berasal dari populasi pengungsi dan satu lagi dari populasi tuan rumah di sekitarnya," kata Juru Bicara WHO Catalin Bercaru kepada kantor berita AFP.

    Bercaru katakan, 'tim investigasi cepat' sedang dikerahkan untuk menindaklanjuti kedua kasus. Seraya menambahkan bahwa kontak pasien sedang dilacak untuk karantina dan pengujian. Infeksi virus corona meningkat dalam beberapa hari terakhir di Bangladesh, yang telah melaporkan 18.863 kasus covid-19 dan 283 kematian sejauh ini.

    Pemerintah memberlakukan kuncian (lockdown) nasional pada 26 Maret dalam upaya untuk memeriksa penyebaran penyakit. Meskipun dikunci, jumlah kasus meningkat tajam beberapa hari terakhir dan jumlah kematian harian serta infeksi terbaru mencapai rekor Rabu.

    Pada awal April, pihak berwenang memberlakukan penguncian total setelah sejumlah kasus ditemukan di distrik Cox's Bazar, membatasi semua lalu lintas masuk dan keluar dari kamp. Pihak berwenang Bangladesh juga memaksa organisasi bantuan untuk memangkas kehadiran mereka di kamp hingga 80 persen.

    Beberapa kelompok HAM dan para aktivis telah menyatakan keprihatinannya bahwa kamp-kamp tersebut adalah titik-titik informasi yang salah tentang pandemi karena larangan internet yang diberlakukan pada September lalu.

    Sebanyak 60.000-90.000 orang terjebak dalam setiap kilometer persegi. Satu keluarga hingga selusin anggota berbagi tempat perlindungan kecil.

    Dr Shamim Jahan, Direktur kelompok bantuan internasional Save the Children's di Bangladesh, mengatakan situasinya mengkhawatirkan.

    "Virus ini telah memasuki pemukiman pengungsi terbesar di dunia di Cox's Bazar," katanya.

    "Kami sedang melihat prospek yang sangat nyata bahwa ribuan orang mungkin meninggal karena Covid-19. Pandemi ini dapat membuat Bangladesh mundur beberapa dekade," ujar dia.

    Jahan mengatakan kapasitas perawatan kesehatan di kamp-kamp pengungsi terbatas di negara Asia Selatan yang sudah kewalahan karena pandemi.

    "Diperkirakan hanya 2.000 ventilator di seluruh Bangladesh, yang melayani populasi 160 juta orang. Di kamp-kamp pengungsi Rohingya, tidak ada ranjang perawatan intensif saat ini," tambahnya.

    Lebih dari 730.000 Rohingya tiba dari Myanmar pada akhir 2017 setelah melarikan diri dari penumpasan militer. Myanmar menghadapi dakwaan genosida di Pengadilan Internasional di Den Haag atas kekerasan tersebut.


    Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id