comscore

Puluhan Perempuan Afghanistan Tuduh Taliban Bunuh Mantan Tentara Nasional

Willy Haryono - 28 Desember 2021 21:39 WIB
Puluhan Perempuan Afghanistan Tuduh Taliban Bunuh Mantan Tentara Nasional
Sekelompok perempuan berunjuk rasa di Kabul, Afghanistan, 28 Desember 2021, dalam mengecam Taliban yang diduga membunuh sejumlah mantan tentara nasional. (Mohd RASFAN / AFP)
Kabul: Sekelompok perempuan berunjuk rasa di jalanan ibu kota Kabul, menuduh kelompok Taliban diam-diam membunuh sejumlah mantan tentara nasional Afghanistan yang dulu pernah bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Sekitar 30 perempuan berkumpul di dekat masjid di Kabul, berjalan sejauh beberapa ratus meter sembari meneriakkan yel-yel, "keadilan, keadilan." Di tengah aksi, para pedemo dihentikan personel Taliban, menurut keterangan seorang koresponden media AFP, Selasa, 28 Desember 2021.
Dilansir dari The New Arab, beberapa personel Taliban juga berusaha mencegah para jurnalis yang hendak meliputi jalannya aksi protes. Dalam sebuah undangan aksi di media sosial, dituliskan bahwa unjuk rasa hari ini bertujuan untuk mengecam "pembunuhan misterius terhadap sejumlah pemuda, terutama para mantan tentara."

Personel Taliban sempat menahan sekelompok reporter dan menyita peralatan mereka. Beberapa foto yang sempat diambil jurnalis juga dihapus langsung dari kamera.

Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada Agustus lalu, mereka telah melarang segala jenis unjuk rasa yang belum mendapat izin. Dalam beberapa kesempatan, Taliban sering menghentikan demonstrasi semacam itu.

Unjuk rasa terbaru di Kabul terjadi beberapa pekan usai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW) melaporkan adanya tuduhan kredibel mengenai lebih dari 100 pembunuhan di luar jalur hukum yang dilakukan Taliban sejak Agustus lalu.

"Saya ingin mengatakan kepada dunia, mengatakan kepada Taliban untuk berhenti membunuh. Kami ingin kebebasan, kami ingin keadilan, kami ingin hak asasi manusia," tutur seorang demonstran bernama Nayera Koahistani.

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan secara lantang oleh pedemo bernama Laila Basam, para pengunjuk rasa menyerukan Taliban untuk "menghentikan mesin kriminalnya."

Mereka juga mengatakan bahwa para mantan tentara nasional dan karyawan pemerintahan terdahulu berada "di bawah ancaman nyata" Taliban. Pembunuhan terhadap mereka melanggar langkah amnesti umum yang diumumkan Taliban pada Agustus lalu.

Baca:  Taliban Izinkan Perempuan Bepergian Tanpa Pendamping dengan Syarat

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id