Angka Kematian Selama Vaksinasi Flu di Korsel Menjadi 59

    Willy Haryono - 27 Oktober 2020 10:39 WIB
    Angka Kematian Selama Vaksinasi Flu di Korsel Menjadi 59
    Deretan vaksin berada di sebuah laboratorium di Korea Selatan. (ED JONES/AFP/Getty)
    Seoul: Angka kematian di tengah berlangsungnya program vaksinasi flu di Korea Selatan bertambah menjadi 59. Otoritas Korsel berkukuh sebagian besar kematian tersebut tidak ada kaitannya dengan vaksin flu yang digunakan dalam program vaksinasi.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDA) mengatakan, dari total 59 orang yang meninggal dalam program vaksinasi tahun ini, 46 di antaranya diyakini tidak terkait dengan vaksin flu.

    KCDA menyebut, investigasi mengenai penyebab 13 kematian tersisa telah diluncurkan. Selagi menunggu hasil, otoritas Korsel tetap melanjutkan program vaksinasi flu.

    "Tidak ada hubungan sebab akibat antara kematian dan vaksin (flu), jadi kami memutuskan untuk melanjutkan penggunaannya," kata KCDA, dikutip dari laman Newsweek pada Senin, 26 Oktober 2020.

    Pada hari Minggu kemarin, Perdana Menteri Korsel Chung Sye-kyun mengonfirmasi bahwa program vaksinasi akan tetap dilanjutkan. "Kami menghormati keputusan para pakar dan memulai vaksinasi untuk warga berusia antara 62 dan 69 sesuai jadwal," ucapnya.

    Satu hari setelahnya, Presiden Korsel Moon Jae-in mendorong masyarakat untuk memercayai otoritas kesehatan. Ia menegaskan bahwa otoritas kesehatan telah mengonfirmasi tidak adanya hubungan sebab akibat antara kematian dan vaksin flu di Negeri Gingseng.

    Moon menegaskan, kesimpulan tidak ada hubungan sebab akibat diambil usai melewati berbagai proses komprehensif, termasuk autopsi.

    Pekan kemarin, Asosiasi Medis Korea "merekomendasikan penundaan vaksinasi selama satu pekan." Namun asosiasi mengklarifikasi bahwa rekomendasinya hanyalah penundaan, bukan penghentian.

    Mengenai kematian 59 orang, KCDA menyebut tidak ada satu pun yang diakibatkan anaphylactic shock, reaksi alergi hebat yang dapat terjadi setelah vaksinasi.

    "Anaphylactic shock seharusnya terjadi beberapa jam usai vaksinasi. Sebagian besar kematian (dari 59 kasus) terjadi lebih dari satu hari. Jika kematian terjadi dalam waktu cepat, maka ada penyakit bawaan," ungkap seorang pejabat KCDA, menurut laporan media Chosun Ilbo.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id