Taiwan Sebut Bekerja Keras Lindungi ABK Indonesia

    Fajar Nugraha - 14 September 2020 13:57 WIB
    Taiwan Sebut Bekerja Keras Lindungi ABK Indonesia
    Ilustrasi oleh Medcom.id.
    Jakarta: Adanya laporan ketidakpuasan Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Taiwan, dibantah oleh pihak Kantor Perwakilan Dagang Taiwan (TETO). Menurut pihak TETO selama ini mereka bekerja keras untuk melindungi ABK asing termasuk yang berasal dari Indonesia.

    Menurut pihak TETO, demi menjamin hak pekerja nelayan asing, pemerintah Taiwan sudah menetapkan (tata cara perizinan dan manajemen nelayan asing yang bekerja diluar peraian Taiwan). Pemilik dan pelaut wajib menandatangani perjanjian yang jelas mengatur hak pelaut asing tersebut, dimana dijamin pembayaran upah minimum nelayan asing adalah USD450 atau sekitar Rp6,7 juta. Para ABK juga diberikan asuransi kesehatan dan kematian.

    Kapal ikan Taiwan menerapkan sistem bonus untuk ABK yang memiliki pengalaman serta kemampuan lebih bisa mendapatkan gaji yang lebih tinggi. Tapi sistem ini juga memungkinkan adanya perselisihan karena eksploitasi waktu kerja yang berlebihan.

    “Hingga saat ini sudah masuk 120 laporan kasus permasalahan upah ABK asing dari Indonesia dan kapal ikan Taiwan.  Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa mayoritas kasus adalah perselisihan gaji dan waktu kerja yang berlebihan,” ujar pernyataan pihak TETO, yang diterima Medcom.id, Senin 14 September 2020.

    “Berdasarkan undang-undang Taiwan, setelah melalui pemeriksaan semua orang yang melanggar akan diberikan sanksi keras atau dihukum,” imbuh pernyataan itu.

    Pihak TETO memberikan contoh, pada 16 Maret 2020 Kapal Taiwan JIN HSING CHI NO.3, terbukti melakukan kecurangan melalui agen menahan gaji 1 orang pelaut asing senilai USD100 atau sekitar Rp1,4 juta setiap bulan dan tidak mebayarkan secara penuh gaji sesuai perjanjian. Atau pelanggaran itu pemerintah Taiwan menghukum lembaga agen sebesar 1 juta dolar Taiwan atau senilai Rp450 juta.

    Selain itu, pihak berwajib yang mengelola industri perikanan Taiwan mendirikan jalur khusus penanganan keluhan dan secara berkala melakukan investigasi. Segera setelah ditemukan pelanggaran aturan dan hak para nelayan, penegakan hukum dijalankan terhadap pemilik kapal atau petugas.

    “Saat ini Taiwan meregistrasi 12.983 orang ABK Indonesia, dua-pertiganya direkrut agen di negara ketiga, cara ini sangat rapuh terhadap praktek eksploitasi ABK. Karena itu Taiwan telah membangun lembaga perizinan, terintegrasi menjamin tanggung jawab dan sistem evaluasi, mendukung peningkatan kualitas pelayanan agen,” sebut pihak TETO.

    “Setiap bulan pemerintah Indonesia menmperbahaui daftar pelaut asing dari Indonesia, pada saat yang sama kedua belah pihak menjamin bisnis struktur pertahanan ikan.

    Lebih lanjut Taiwan menambahkan bahwa secara umun, hubungan nelayan Indonesia dan pemilik kapal ikan Taiwan harmonis dan saling membantu. Pemerintah Taiwan juga sangat melindungi hak nelayan asing, karena itu hanya terjadi sedikit sekali sengketa hak pekerja asing. Sejak ditetapkannya tata cara perijian dan manajemen nelayan asing yang bekerja diluar perairan Taiwan, nelayan asing memperoleh perlindungan yang efektif, sehingga kasus jauh berkurang.

    “Taiwan akan untuk terus berkerja sama dengan Indonesia, bersama-sama mempromosikan manajemen kapal ikan yang baik dan perlindungan hak para nelayan,” tegas pihak Taiwan.

    Pemerintah Taiwan juga menyediakan jalur aduan untuk ABK Indonesia yang merasa diperlakukan tidak adil, yaitu: +886-2-8073-3141 kepada petugas yang berwenang di Taiwan dan +62-21-515-3939 kepada kantor perwakilan Taiwan di Indonesia.


    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id