HRW: Korut Perlakukan Narapidana Lebih Buruk dari Binatang

    Willy Haryono - 19 Oktober 2020 18:02 WIB
    HRW: Korut Perlakukan Narapidana Lebih Buruk dari Binatang
    Pemimpin Korut Kim Jong-un. (Foto: KCNA/AFP)
    New York: Penyiksaan, penghinaan, pengakuan dengan paksaan, serta kelaparan terlihat sebagai "karakteristik fundamental" dalam sistem detensi pra-persidangan di Korea Utara, menurut laporan terbaru Human Rights Watch (HRW) pada Senin, 19 Oktober 2020. Laporan HRW disusun dari sekumpulan testimoni mantan pejabat atau tahanan yang pernah ditahan di Korut sejak Kim Jong-un berkuasa pada 2011.

    Laporan terbaru HRW setebal 88 halaman menambah dokumentasi mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam sistem peradilan di Korut. Sebelumnya, tim investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa telah merilis dugaan pelanggaran HAM di Korut pada 2014.

    Dalam laporan PBB, disebutkan bahwa Kim dan jajaran petinggi sektor keamanannya harus diseret ke hadapan hukum atas penyiksaan, pembunuhan, dan kelaparan sistematis di kalangan narapidana.

    Versi HRW berisi wawancara dari delapan mantan pejabat Korut dan 22 bekas tahanan. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa narapidana di Korut diperlakukan "lebih buruk dari binatang" selama masa penahanan.

    "Detensi pra-persidangan di Korut dan sistem investigasinya acak, kejam, dan merendahkan martabat," kata Direktur HRW cabang Asia, Brad Adams, seperti dilansir dari laman Al Jazeera.

    "Warga Korut mengaku takut tertangkap dalam sebuah sistem di mana prosedur resmi biasanya tidak relevan, status bersalah atau tidaknya seseorang didasarkan pada asumsi semata, dan satu-satunya cara untuk bebas adalah melalui sogokan atau koneksi orang dalam," sambung dia.

    Semua tahanan yang diwawancara HRW mengatakan bahwa mereka pernah dipaksa duduk di lantai, berlutut, atau bersila selama tujuh hingga delapan jam per hari. Dalam kasus tertentu, para tahanan dipaksa melakukan itu selama 13 hingga 16 jam.

    Jika tahanan bergerak selama periode itu, sipir penjara akan menghukum individu terkait atau keseluruhan penghuni pusat detensi. Hukuman sipir terhadap narapidana di Korut beragam, mulai dari pemukulan, push-up, dan gerakan berat lainnya.

    "Beberapa sipir juga memukul jari kami di jeruji besi dengan tongkat atau ujung senjata. Jika benar-benar marah, mereka bisa masuk ke sel dan memukuli kami semua," ucap seorang mantan prajurit Korut yang pernah mencoba kabur ke Korea Selatan.

    Baca:  Lewat Film, Korsel Ajak RI Telusuri Pelanggaran HAM di Korut

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id