Ketatnya Protokol Kesehatan di Tiongkok, Meski Covid-19 Mulai Hilang

    Fajar Nugraha - 07 April 2021 19:48 WIB
    Ketatnya Protokol Kesehatan di Tiongkok, Meski Covid-19 Mulai Hilang
    ?Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun. Foto: Media Group



    Beijing: Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun menegaskan ketatnya Tiongkok dalam menerapkan protokol kesehatan. Dia bahkan harus menjalani karantina, setelah menemani tiga menteri melakukan pertemuan.

    “Saya masih melakukan karantina selama lima hari, sebelum kembali ke Beijing karena baru mendampingi tiga menteri yang baru berkunjung ke sini, untuk melakukan pembicaraan-pembicaraan,” ujar Dubes Djauhari, dalam CEO & Leadership Summit 2021, yang disiarkan secara virtual, Rabu 7 April 2021.






    “Kenapa saya mulai dari sini. Bahwa walaupun Tiongkok nyaris return to normal, protokol kesehatannya masih dijalankan. Bahkan kami semua yang bertemu, jadi tidak hanya staf-staf kedutaan, tetapi pejabat pemerintah dan pengusaha-pengusaha yang bertemu dengan delegasi Indonesia, kami semua harus karantina lima hari sebelum kembali ke kota nya masing-masing,” cerita Dubes Djauhari.

    “Poin saya adalah meskipun situasi sudah jauh lebih membaik di Tiongkok protokol kesehatan khususnya seperti yang saya lakukan, itu masih dijalankan dengan baik,” ucapnya.

    Sebelumnya pada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir telah berkunjung ke Tiongkok pada 1-3 April 2021. Kedatangan mereka bertujuan membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama, termasuk kerja sama vaksin, peningkatan perdagangan dan investasi serta kekonsuleran.

    Selama di Tiongkok, ketiga Menteri telah melakukan pertemuan bersama dengan State Councilor/Menlu RRT Wang Yi dan Pimpinan Provinsi Fujian. Mereka juga melakukan pertemuan terpisah dengan masing-masing pimpinan K/L di Tiongkok yang merupakan mitra kerja masing-masing menteri dan berbagai perusahaan Tiongkok yang sudah memiliki kerja sama dengan Indonesia dan berminat mengembangkan bisnisnya di Tanah Air.
     
    Salah satu isu utama yang diangkat dalam kunjungan para Menteri RI ke Tiongkok adalah pengadaan vaksin Covid-19 maupun potensi pengembangan kerja sama antara perusahaan vaksin Tiongkok dengan perusahaan lokal di Indonesia. Tidak hanya untuk membantu Indonesia dalam penyediaan vaksin mandiri, namun juga mendukung RI menjadi regional hub untuk produksi vaksin di kawasan.

    Tiongkok sebagai investor asing kedua terbesar di Indonesia memiliki sejumlah potensi perluasan kerja sama bisnis dengan Indonesia. Dalam hal ini, Menteri BUMN RI juga telah mengoptimalkan kunjungan ke Tiongkok untuk bertemu dengan perusahaan industri baterai listrik CBL maupun perusahaan pembangun kilang smelter grade alumina (SGA) Chalieco yang telah memiliki investasi di Indonesia dan berminat untuk memperluas investasinya ke kota-kota lain di Indonesia.
     
    CBL, yang merupakan platform perusahaan CATL (Contemporary Amperex Technology Co. Ltd.) di Indonesia, merencanakan investasi untuk mengembangkan rantai industri baterai di Indonesia yang diawali dari pengolahan bahan baku nikel, pembangunan charging station sampai dengan manufaktur kendaraan listrik. Menteri BUMN menegaskan dukungan Pemerintah RI bagi kelangsungan investasi perusahaan di Tanah Air.
     
    Sebagai salah satu agenda pokok kunjungan di Tiongkok, Menteri BUMN juga telah bertemu dengan Vice Chairman State-Owned Assets Supervision and Administration Commission (SASAC) RRT. Keduanya membahas kerja sama antara BUMN Indonesia dan Tiongkok melalui antara lain pembentukan platform kerja sama konkret dan saling menguntungkan bagi BUMN kedua negara untuk lebih mengembangkan potensi BUMN sebagai bagian dari reformasi dan transformasi BUMN. SASAC juga akan memfasilitasi BUMN Indonesia untuk mencarikan mitra lokal di Tiongkok yang berminat untuk berinvestasi di Indonesia.
     
    Terkait perdagangan, dari hasil pertemuan antara Mendag RI dengan berbagai perusahaan Tiongkok yang bergerak di produk pertanian dan furnitur, telah dihasilkan komitmen impor dari Indonesia sebesar USD1,38 miliar atau setara Rp20,04 triliun. Realisasi komitmen tersebut diharapkan dapat berkontribusi signifikan untuk lebih memperbaiki neraca dagang Indonesia dan Tiongkok. Mendag RI dan Menteri BUMN RI juga telah menerima rencana investasi Shandong Timber and Wood Association sebesar USD1,35 miliar atau Rp19,6 triliun di kawasan industri Indonesia.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id