comscore

UNICEF: Lebih dari 28.500 Anak di Afghanistan Tewas Sejak 16 Tahun Terakhir

Marcheilla Ariesta - 02 Januari 2022 16:03 WIB
UNICEF: Lebih dari 28.500 Anak di Afghanistan Tewas Sejak 16 Tahun Terakhir
Anak-anak berjalan ke sekolah di pagi hari di kota Kandahar, Afghanistan, 1 Januari 2022. (Javed TANVEER / AFP)
Kabul: Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) melaporkan, lebih dari 28.500 anak tewas di Afghanistan sejak 16 tahun terakhir. UNICEF mengatakan, perang di Afghanistan, Yaman, Suriah, dan Ethiopia utara merupakan faktor utama meninggalnya banyak anak-anak.

"Afghanistan, misalnya, memiliki jumlah korban anak terverifikasi tertinggi sejak 2005, lebih dari 28.500 – terhitung 27 persen dari semua korban anak terverifikasi secara global," ucap Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari situs resmi mereka, Minggu, 2 Januari 2022.
Fore mengatakan, empat negara sarat konflik tersebut menjadi tempat di mana masa depan anak-anak hancur akibat konflik bersenjata dan ketidakamanan berkepanjangan.

"Tahun demi tahun, pihak-pihak berseteru terus menunjukkan pengabaian mengerikan terhadap hak dan kesejahteraan anak-anak," kata dia.

"Semua pihak bertikai harus mengambil tindakan nyata untuk melindungi anak-anak yang menderita dan sekarat karena ketidakpedulian ini," sambung Fore.

PBB juga telah memverifikasi 266.000 kasus pelanggaran berat terhadap anak-anak di lebih dari 30 situasi konflik di Afrika, Asia, Asia Barat dan Amerika Latin selama 16 tahun terakhir.

Angka tersebut merupakan kasus yang diverifikasi mekanisme pemantauan dan pelaporan yang dipimpin PBB. Ini artinya, angka sebenarnya di lapangan mungkin jauh lebih besar.

UNICEF juga memperingatkan tentang memburuknya situasi anak-anak di Afghanistan, terutama terhadap penyakit di tengah krisis gizi dan pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Afghanistan tengah menghadapi apa yang disebutkan badan-badan PBB sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia" sejak runtuhnya Kabul pada pertengahan Agustus 2021, yang terjadi setelah Amerika Serikat mundur dari negara tersebut.

AS menarik pasukannya dari Afghanistan 20 tahun setelah mereka menginvasi negara itu untuk menggulingkan kelompok Taliban. Perang berkepanjangan itu diperkirakan telah menewaskan hingga 929 ribu orang.

November lalu, perwakilan khusus PBB untuk Afghanistan memperingatkan, negara itu sedang berada di ambang bencana kemanusiaan. Ekonominya yang runtuh juga meningkatkan risiko terorisme.

Baca:  UNHCR Desak Sejumlah Negara Berhenti Deportasi Warga Afghanistan

Sejak Taliban mendapatkan kembali kekuasaan di Afghanistan, AS dan sekutunya telah memberlakukan sanksi terhadap negara Asia Tengah itu, dan juga mencabut bantuan untuk warga Afghanistan dengan dalih menekan Taliban.

Namun, aktivis hak asasi manusia berpendapat bahwa sanksi ekonomi umumnya tidak berdampak pada penguasa, melainkan hanya akan menyakiti penduduk, memicu kelaparan massal, serta krisis bahan bakar.

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id