Warga Nagorno-Karabakh Belum Rasakan Dampak Gencatan Senjata

    Marcheilla Ariesta - 13 Oktober 2020 13:24 WIB
    Warga Nagorno-Karabakh Belum Rasakan Dampak Gencatan Senjata
    Seorang pria berdiri di reruntuhan dari rumah yang hancur terkena imbas konflik antara Armenia dan Azerbaijan di Stepanakert, Nagorno-Karabakh. (ARIS MESSINIS/AFP)
    Stepanakert: Penduduk ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, mengaku belum merasakan dampak gencatan senjata yang sebenarnya sudah disepakati antara Armenia dan Azerbaijan. Gencatan senjata ini sudah berlaku pada Sabtu pekan lalu, setelah kedua negara menyepakatinya dalam sebuah pertemuan di Moskow, Rusia.

    "Kami tidak merasakan gencatan senjata sama sekali," kata Larisa Azeryan, warga setempat yang tinggal di tempat penampungan ruang bawah tanah sebuah gedung apartemen di Stepanakert.

    "Semua orang tinggal di sini, kami makan dan tidur di sini. Kami menghabiskan sepanjang hari di sini, di ruang bawah tanah," imbuhnya, dilansir dari Al Jazeera, Selasa, 13 Oktober 2020.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengaku kecewa atas laporan pelanggaran gencatan senjata. Lewat juru bicaranya, Stephane Dujarric, Guterres menganggap aksi kedua negara yang masih saling serang sebagai sesuatu tidak dapat diterima.

    Dujarric meminta semua pihak memenuhi perjanjian gencatan senjata yang diumumkan di Moskow. "Kami juga menyerukan kembali peringatan dari Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia atas penderitaan warga sipil (Nagorno-Karabakh," serunya.

    Sebagai negara penengah, Rusia telah meminta Armenia dan Azerbaijan untuk mematuhi gencatan senjata. "Kami berharap kedua pihak akan menerapkan keputusan itu dengan tegas," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov usai pertemuan dengan Menlu Armenia, Zohrab Mnatsakanyan.

    Lavrov mengatakan, gencatan senjata bukan berarti semua masalah dapat selesai begitu saja. Ia menambahkan semua butuh proses, termasuk konflik antara Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh.

    Selain Rusia, Turki juga mendorong agar Armenia dan Azerbaijan saling menahan diri serta mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

    Hubungan antar Armenia dan Azerbaijan, dua negara bekas pecahan Uni Soviet, memburuk sejak 1991. Kala itu, militer Armenia menguasai Nagorno-Karabakh walau diakui dunia sebagai milik Azerbaijan.
     
    Sekitar 20 persen dari wilayah Azerbaijan masih diduduki Armenia dalam tiga dekade terakhir.


    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id