comscore

Taliban Bebaskan Direktur Stasiun Televisi Afghanistan

Medcom - 29 Desember 2021 16:59 WIB
Taliban Bebaskan Direktur Stasiun Televisi Afghanistan
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam konferensi pers di Kabul, Afghanistan. (AFP)
Kabul: Kelompok Pemantau Jurnalis Afghanistan (AFJC) mengatakan pada Selasa, 28 Desember, bahwa kelompok Taliban telah membebaskan seorang direktur stasiun televisi Afghanistan. Pembebasan dilakukan dua hari setelah sutradara tersebut ditahan. 

Dilansir dari Gandhara, Rabu, 29 Desember 2021, Aref Nouri merupakan direktur jaringan televisi swasta Nourin. Ia ditahan di rumahnya di Kabul pada 26 Desember karena alasan yang tidak ditentukan.

 



AFJC mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya "mengutuk penahanan sewenang-wenang" terhadap Nouri sebagai "pelanggaran kebebasan pers."

Putra Nouri, Roman Nouri, mengatakan kepada RFE/RL bahwa pasukan keamanan Taliban menggeledah rumah keluarga mereka tanpa surat perintah penangkapan, dan membawa ayahnya ke lokasi yang tidak diketahui. Tidak jelas mengapa Nouri ditahan saat itu.

Asosiasi Jurnalis Independen Afghanistan (AIJA), mengutip Juru Bicara Pemerintah Taliban Zabihullah Mujahid, mengatakan bahwa penahanan itu tidak terkait dengan kegiatan Nouri di bidang media.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS), juga telah menyerukan pembebasan Nouri. "Penahanan pemilik media Aref Nouri oleh milisi yang berafiliasi dengan Taliban menandai serangan serius terhadap media independen di Afghanistan," kata koordinator CPJ Asia, Steven Butler. 

"Pihak berwenang Taliban harus segera membebaskan Nouri dan berhenti mengintimidasi suara-suara independen di Afghanistan," tambah Butler.

Nourin TV dikenal karena liputannya terkait masalah keamanan dan kecenderungan terhadap partai oposisi Jamiat-e Islami.

Taliban, yang menerapkan interpretasi ketat terhadap hukum Syariah Islam selama tugas terakhirnya berkuasa dari 1996 hingga 2001, merebut kembali kekuasaan di Kabul pada pertengahan Agustus lalu.

Pengambilalihan oleh Taliban memicu kekhawatiran tentang masa depan media yang bebas dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Afghanistan.

Reporters Without Borders (RSF) dan AIJA diketahui merilis survei bersama pekan lalu. Mereka menemukan 43 persen media telah ditutup dan 60 persen jurnalis tidak dapat bekerja kembali sejak Taliban menguasai negara itu.

Kini, media di Afghanistan "sebagian besar tidak memiliki jurnalis perempuan," setelah 84 persen dari total awak media perempuan di seantero negeri kehilangan pekerjaan mereka. (Nadia Ayu Soraya)

Baca:  Puluhan Perempuan Afghanistan Tuduh Taliban Bunuh Mantan Tentara Nasional

(WIL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id