Afghanistan dan Taliban Bebaskan Tahanan di Tengah Krisis Korona

    Arpan Rahman - 26 Maret 2020 20:09 WIB
    Afghanistan dan Taliban Bebaskan Tahanan di Tengah Krisis Korona
    Pasukan Afghanistan berkutat dengan Taliban dan ISIS. Foto: AFP
    Kabul: Pemerintah Afghanistan dan pemberontak Taliban telah menyetujui perjanjian pembebasan tahanan sebagai bagian dari proses perdamaian. Langkah itu diambil di tengah pandemi virus korona dan serangan lanjutan yang dilakukan oleh kelompok militan Islamic State (ISIS).

    Juru Bicara Taliban, Suhail Shaheen, Rabu mengumumkan bahwa konferensi video empat jam telah berlangsung yang melibatkan perwakilan pemerintah Afghanistan yang berbasis di Kabul, pemberontakan Taliban, Amerika Serikat, Qatar, dan Komite Palang Merah Internasional. Shaheen mencuit bahwa "diskusi terperinci diadakan mengenai proses pembebasan tahanan" dan bahwa jadwal sudah ditetapkan untuk mulai membebaskan narapidana yang ditahan. Langkah itu sebelumnya ditunda oleh Presiden Ashraf Ghani yang baru terpilih kembali, yang pemerintahannya tidak berpartisipasi dalam pembicaraan AS-Taliban baru-baru ini.

    "Diputuskan pada pertemuan itu bahwa proses pembebasan tahanan akan dimulai pada 31 Maret dan Imarah Islam akan mengirim delegasi teknis ke Penjara Bagram untuk membantu mengidentifikasi, memverifikasi, dan membebaskan tahanan sesuai dengan daftar yang disediakan,"  kata Shaheen, menggunakan nama resmi Taliban.

    Taliban diwakili oleh tim teknis, sementara pemerintah Afghanistan diwakili oleh Kelompok Kontak Awal Perdamaian. Pertemuan itu dikonfirmasi oleh Dewan Keamanan Nasional Afghanistan, yang kantor persnya mencuit Rabu: "Tunduk pada diskusi lebih lanjut, dan sesuai dengan keputusan Presiden Ghani, 100 tahanan akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan -- termasuk kesehatan, usia dan kerentanan #COVID19 -- pada  31 Maret setelah jaminan oleh Taliban dan para tahanan bahwa mereka tidak akan kembali memasuki pertempuran."

    "Untuk melakukan diskusi lebih lanjut ini, sebuah tim Taliban akan bertemu dengan pemerintah secara tatap muka di Afghanistan dalam beberapa hari mendatang," kata media resmi pemerintah, dirilis dari Newsweek, Kamis 26 Maret 2020.

    Pertemuan tatap muka di antara para pejabat menjadi semakin langka tidak hanya di Afghanistan tetapi juga di seluruh dunia karena jumlah kasus virus COVID-19 yang dikonfirmasi melebihi 440.000 pada Rabu, termasuk sekitar 20.000 kematian dan lebih dari 111.000 pemulihan. Infeksi yang dilaporkan di Afghanistan telah mencapai 84, dua di antaranya telah meninggal dan dua di antaranya pulih.

    Membebaskan tahanan perang adalah poin utama dari kesepakatan bersejarah yang dicapai akhir bulan lalu oleh perunding AS dan Taliban. Tetapi pemerintah Afghanistan tidak termasuk dalam diskusi dan telah menyerukan seterunya untuk menunjukkan bukti lebih lanjut tentang komitmennya menyingkirkan rencana  pengambilalihan dengan kekerasan sebelum pembebasan penuh hingga 5.000 Taliban di tahanan. Awal bulan ini, Ghani memutuskan pembebasan awal 1.500 tahanan Taliban, disusul tambahan 500 setiap pekan jika pembicaraan ditegaskan.

    Namun, proses tersebut telah tertunda, dan perwakilan AS dan Taliban mendesak pembebasan tahanan tepat waktu, yang mereka peringatkan berisiko lebih tinggi terpajan penyakit virus korona.  Dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke Newsweek pekan lalu, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Afghanistan Javad Faisal mengatakan bahwa posisi Kabul pada pembebasan tahanan "tetap tidak berubah" meskipun ada banding.

    "Taliban harus berhenti membunuh warga Afghanistan dan memberikan jaminan bahwa mereka yang dibebaskan tidak akan kembali berperang. Saatnya bagi mereka untuk mengakhiri kekerasan dan berkomitmen untuk perdamaian yang bermartabat,” sebut Faisal.

    Ketika ketidakpastian meningkat, cabang Khorasan ISIS, kadang-kadang disebut sebagai ISIS-K, telah berusaha untuk melemahkan upaya apapun guna menstabilkan Afghanistan dengan melakukan serangan mematikan, seringkali serangan sektarian di seluruh negeri. Ini termasuk menembaki kerumunan yang berkumpul buat memperingati ulang tahun pembunuhan seorang politisi Muslim Syiah yang dihormati dan penyerbuan kompleks religi Sikh pada Rabu.

    Kedua serangan itu dikecam oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang mengunjungi Kabul pada Senin dan menyebut pertumpahan darah beberapa hari kemudian sebagai "mengerikan."

    Taliban telah bersumpah untuk mencegah ISIS mengambil alih kekuasaan di Afghanistan dan untuk melanjutkan dialog dengan pemerintah sebagai bagian dari perjanjian damai 29 Februari dengan AS. Sebagai imbalannya, Washington telah berjanji penarikan semua sekitar 14.000 personel di negara itu, bersama pasukan asing lainnya yang beroperasi sebagai bagian dari komando yang dipimpin NATO, sebuah langkah yang akan menandai berakhirnya perang terpanjang dalam sejarah AS.

    AS telah terlibat di Afghanistan setidaknya sejak 1980-an, mendukung pemberontakan mujahidin melawan pemerintah yang didukung Soviet yang kemudian jatuh. Taliban muncul sebagai faksi dominan dari perang saudara yang terjadi kemudian, yang memungkinkan kelompok Muslim Sunni garis keras Al Qaeda berakar dan berkembang sampai intervensi pimpinan AS usai serangan 9/11 pada tahun 2001.

    AS sejak itu berjuang mendukung pasukan Afghanistan lokal melawan Taliban, yang telah memperoleh dukungan di seluruh negeri.  Kesepakatan damai saat ini datang setelah serangkaian perundingan selama setahun yang diadakan di ibu kota Qatar, Doha.

    Namun di Kabul, perselisihan politik antara Ghani dan Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah juga mengancam akan menggagalkan upaya perdamaian. Kedua tokoh itu mengklaim kemenangan dalam pemilihan tahun lalu dan sama-sama mengadakan pelantikan awal bulan ini, memperdalam perpecahan yang digambarkan Pompeo sebagai ‘sangat menyebalkan.’



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id