comscore

Kisruh Kapal Selam Nuklir, PM Australia Disebut ‘Penipu’

Fajar Nugraha - 29 September 2021 18:05 WIB
Kisruh Kapal Selam Nuklir, PM Australia Disebut ‘Penipu’
Mantan PM Australia Malcom Turnbull (setelan biru) bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 2018. Foto: AFP
Canberra: Mantan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengatakan, penggantinya, PM Scott Morrison sengaja menipu Prancis. Ini terkait pembatalan Australia terkait kesepakatan kapal selam multi-miliar euro dengan Prancis, demi kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang bertenaga nuklir.

Turnbull, yang pemerintahnya menyetujui kesepakatan kapal selam dengan Prancis pada 2016, mengecam cara Perdana Menteri Scott Morrison menangani peralihan kesepakatan. Peralihan ini merupakan bagian dari aliansi strategis baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.
Baca: Dubes: Kepercayaan Prancis ke Australia Tidak Mungkin Kembali Utuh.

"Morrison tidak bertindak dengan itikad baik. Dia dengan sengaja menipu Prancis. Dia tidak membela tindakannya selain mengatakan itu untuk kepentingan nasional Australia," kata Turnbull kepada National Press Club di Canberra, seperti dikutip AFP, Rabu 29 September 2021.

"Prancis percaya telah ditipu dan dipermalukan, dan dia memang begitu. Pengkhianatan kepercayaan ini akan mengganggu hubungan kita dengan Eropa selama bertahun-tahun," tambahnya.

"Pemerintah Australia telah memperlakukan Prancis dengan penghinaan,” tegas Turnbull.

Turnbull mengatakan bahwa terlepas dari kemitraan pertahanan AS-Inggris-Australia (AUKUS) yang baru, tidak ada kontrak yang ditandatangani bagi Australia untuk membeli kapal selam bertenaga nuklir, yang diharapkan menjadi kelas Astute dari Inggris atau kelas Virginia dari AS yang lebih besar.

"Australia sekarang tidak memiliki program kapal selam baru sama sekali," katanya.

"Satu-satunya kepastian adalah bahwa kita tidak akan memiliki kapal selam baru selama 20 tahun dan biayanya akan jauh lebih mahal daripada kapal selam yang dirancang Prancis,” tambah Turnbull.

Morrison mengatakan keputusan untuk beralih ke kapal selam bertenaga nuklir didorong oleh perubahan dinamika di kawasan Asia-Pasifik, di mana kekuatan militer Tiongkok yang meningkat semakin menegaskan klaimnya atas hampir seluruh Laut China Selatan.

Tetapi Paris bereaksi dengan marah terhadap peralihan tersebut, dengan mengatakan telah kehilangan kontrak yang awalnya bernilai 50 miliar dolar Australia. Menggambarkan pembatalan itu sebagai "tikaman dari belakang", Prancis menarik duta besarnya untuk Amerika Serikat dan Australia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sejak itu mengadakan pembicaraan dengan timpalannya dari AS Joe Biden untuk mulai memperbaiki hubungan dan menginstruksikan duta besarnya untuk kembali ke Washington minggu ini.

Namun, belum ada pengumuman tentang kembalinya duta besar Prancis ke Canberra, dan tidak ada pembicaraan yang dilaporkan antara Macron dan Morrison.

Morrison dan Turnbull adalah rival dalam Partai Liberal Australia. Morrison mengambil alih sebagai perdana menteri pada Agustus 2018 ketika Turnbull digulingkan oleh faksi konservatif garis keras dari partai tersebut.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id