Menlu AS dan Tiongkok Berbagi Pengalaman Demokrasi di BDF ke-14

    Marcheilla Ariesta - 09 Desember 2021 17:49 WIB
    Menlu AS dan Tiongkok Berbagi Pengalaman Demokrasi di BDF ke-14
    Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah./Medcom.id-Marcheilla



    Bali: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken dan Menlu Tiongkok, Wang Yi, memberikan paparannya mengenai demokrasi dalam Bali Democracy Forum (BDF) ke-14. Keduanya menyampaikan pengalaman mereka berdemokrasi dalam forum yang diinisiasi Indonesia untuk kawasan Asia dan Pasifik ini.

    "Jadi tadi Menlu Wang Yi juga bercerita mengenai persepsi negaranya atas demokrasi dan bagaimana melihat persepsi negaranya atas demokrasi," kata Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah di Nusa Dua, Bali, Kamis, 9 Desember 2021.

     



    Faizasyah menambahkan, Wang Yi juga menyampaikan bagaimana melihat dinamika internasional terkait pembahasan isu-isu demokrasi. 

    Secara spesifik, kata Faizasyah, Wang Yi memberikan semacam argumentasi apa yang sudah dilakukan Tiongkok dalam mengatasi berbagai tantangan melalui sistem politik yang mereka jalankan.

    Baca juga: Tiga Saran Menlu Retno Cegah Kemunduran Demokrasi di Tengah Pandemi

    "Amerika Serikat lebih bicara mengenai kepercayaannya, bahwa demokrasi tetap menjadi salah satu sistem yang terbaik mengatasi berbagai tantangan global," ucap Faizasyah.

    Blinken juga membahas rencana penyelenggaraan forum Summit for Democracy dalam BDF. Sebelumnya, Menlu Retno mengatakan, akan mendampingi Presiden Joko Widodo dalam forum Summit for Democracy yang diinisiasi Amerika Serikat hari ini.

    Dalam wawancara bersama Medcom.id, Faizasyah mengatakan, Summit for Democracy berbeda sifatnya dengan BDF. Pasalnya, dalam Summit for Democracy, dari awal sudah ditetapkan hanya mengundang negara - yang dari persepsi AS sebagai negara - demokrasi.

    "Sementara BDF adalah satu forum yang lebih terbuka dan inklusif, memberikan ruang seluas-luasnya bagi negara di kawasan Asia dan Pasifik, dan negara observer untuk meninjau, hadi dan berpartisipasi," jelasnya.

    "Dengan demikian, peserta BDF adalah negara demokrasi, negara-non-demokrasi - atau yang kita sebut negara yang memiliki keinginan atau aspirasi, mengambil prinsip demokrasi untuk lebih memperbaiki tata kelola pemerintahannya ke depan," pungkas Faizasyah.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id