Menlu Retno Bahas Keselamatan ABK WNI dengan Tiongkok

    Marcheilla Ariesta - 21 Agustus 2020 08:19 WIB
    Menlu Retno Bahas Keselamatan ABK WNI dengan Tiongkok
    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Foto: Dok. Kemenlu RI.
    Sanya: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membahas perlindungan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal Tiongkok dengan Menlu Tiongkok Wang Yi. Retno menyampaikan keprihatinan karena masih sering terjadi kekerasan yang menimpa WNI ABK tersebut.

    "Saya sampaikan kembali concern kita mengenai masih terjadinya kasus-kasus yang menimpa ABK Indonesia yang bekerja di kapal-kapal ikan Tiongkok," kata Retno dalam jumpa pers virtual usai bertemu Wang Yi di Sanya, Hainan, Kamis, 20 Agustus 2020.

    Menurutnya, sudah seharusnya pemerintah ikut campur tangan dalam kasus ini. Pasalnya, berbagai kasus terus berulang hingga menimbulkan korban jiwa.

    "Saya menekankan bahwa isu ini sudah bukan merupakan isu antara swasta, namun pemerintah sudah harus terlibat untuk memastikan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan ini tidak terjadi di masa mendatang," tuturnya.

    Retno menambahkan Indonesia juga meminta kerja sama mutual legal assistance antara lain adanya keperluan saksi warga negara Tiongkok. Indonesia juga ingin agar investigasi dilakukan transparan, terlebih untuk tuduhan perdagangan manusia di kapal Long Xin 629.

    "Permintaan ini ditanggapi dengan positif oleh Menlu Wang Yi," imbuhnya.

    Total 22 WNI ABK yang diberangkatkan untuk bekerja di Kapal Long Xing 629. Para WNI itu mulai berlayar sejak 15 Februari 2019.

    Pada Maret 2019, dua ABK dipindahkan ke kapal lain, yakni Long Xing 630.

    Seorang ABK bernama Sepri meninggal karena sakit pada 22 Desember 2019. Jenazah Sepri kemudian dilarung dari kapal. Selain Sepri, tiga ABK lainnya juga sakit dan dipindahkan ke kapal Long Xing 802.

    Dari ketiga ABK yang dipindahkan, satu ABK atas nama Alfatah meninggal pada 27 Desember 2019. Jenazahnya juga kemudian dilarungkan di laut.

    Merasa ada perlakukan yang tidak sesuai, sisa 16 ABK yang masih berada di Kapal Long Xing 629 meminta untuk pulang. Akan tetapi, Kapal Long Xing 629 tidak memiliki izin untuk kembali. 

    Maka dari itu, 16 ABK yang tersisa dipindahkan ke Kapal Tian Yu 8 pada Maret 2020. Dalam perjalanan, tepatnya 2 April 2020, satu ABK bernama Ari meninggal di Kapal Tian Yu 8. Jenazah Ari kemudian dilarung. 

    Sebanyak 15 ABK yang tersisa sempat tiba di Busan, Korea Selatan pada 14 April 2020. Mereka menjalani karantina terlebih dahulu. Sayangnya, satu ABK meninggal pada 26 April 2020.

    Dalam kasus ini, penyidik Bareskrim Polri telah menetapkan tiga tersangka yang terdiri dari JK dari PT SMG, WG dari PT APJ, dan KMF dari PT LPB. Modus ketiga tersangka sama, yaitu menjanjikan para korban untuk bekerja di kapal berbendera Korea Selatan secara legal serta menempatkan ABK sesuai perjanjian. 

    Para korban juga diiming-imingi gaji sebesar USD4.200 (sekitar Rp61,8 juta) untuk 14 bulan waktu kerja. Namun, korban yang diberangkatkan PT APJ tidak menerima gaji sama sekali.

    Sementara itu, Kemenlu meminta agar pihak Tiongkok juga membantu penyelidikan kasus dugaan perdagangan manusia. Hal ini yang disampaikan Menlu Retno kepada Wang Yi.


    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id