Tiongkok Sebut Obat Flu Jepang Efektif Tangani Korona

    Willy Haryono - 18 Maret 2020 14:42 WIB
    Tiongkok Sebut Obat Flu Jepang Efektif Tangani Korona
    Petugas medis menangani seorang pasien covid-19 di sebuah rumah sakit di Roma, Italia. (Foto: AFP/ANDREAS SOLARO)
    Beijing: Otoritas medis Tiongkok mengatakan bahwa sebuah obat yang digunakan di Jepang "efektif" dalam menangani pasien pengidap virus korona (covid-19). Pernyataan disampaikan Zhang Xinmin, seorang pejabat Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok.

    Ia menilai bahwa obat bernama favipiravir, yang dikembangkan anak perusahaan Fujifilm, telah mencetak hasil menjanjikan dalam uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien.

    "(Favipiravir) memiliki tingkat keamanan tinggi, dan jelas efektif dalam penanganan (pasien korona)," ujar Zhang kepada awak media, seperti dikutip dari laman Guardian, Rabu 18 Maret 2020.

    Menurut laporan media NHK, sejumlah pasien yang diberi favipiravir di Shenzhen terbebas dari covid-19 usai sempat dinyatakan positif empat hari sebelumnya. Pasien yang tidak diberi obat tersebut, tambah NHK, baru dinyatakan sembuh dari covid-19 usai 11 hari lalu.

    Tidak hanya itu, hasil Sinar X memperlihatkan sekitar 91 persen pasien mengalami peningkatan kondisi paru-paru usai diberi favipiravir. Sementara pasien yang tidak mendapat obat tersebut, angkanya hanya berkisar 61 persen.

    Fujifilm Toyama Chemical, perusahaan pengembang obat tersebut -- atau dikenal juga dengan Avigan, telah mengembangkan favipiravir sejak 2014. Hingga saat ini Avigan belum bersedia berkomentar mengenai pernyataan Zhang.

    Saham perusahaan Avigan meroket usai pernyataan Zhang beredar di media. Sejak covid-19 mewabah, sejumalah dokter di Jepang telah menggunakan favipiravir untuk mengobati para pasiennya.

    Namun seorang sumber di Kementerian Kesehatan Jepang mengindikasikan bahwa favipiravir tidak efektif terhadap pasien yang memperlihatkan gejala berat covid-19. "Kami telah memberikan Avigan ke 70 hingga 80 orang, tapi tidak efektif jika virusnya sudah berkembang biak," ucap sumber tersebut kepada Mainichi Shimbun.

    Pada 2016, Pemerintah Jepang memasok favipiravir sebagai bantuan darurat untuk melawan wabah virus Ebola di Guinea. Favipiravir membutuhkan persetujuan Pemerintah Jepang jika akan digunakan secara massal untuk pasien covid-19, karena obat tersebut awalnya hanya diperuntukkan untuk mengobati flu biasa.

    Seorang pejabat kesehatan Jepang mengatakan kepada Mainichi bahwa favipiravir bisa disetujui oleh pemerintah pada awal Mei. "Tapi jika hasil riset klinisnya ditunda, maka pengesahannya juga bisa tertunda," ungkapnya.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id