Taiwan Sebut Tiongkok Lakukan Pelanggaran Udara Terbesar

    Willy Haryono - 14 April 2021 10:52 WIB
    Taiwan Sebut Tiongkok Lakukan Pelanggaran Udara Terbesar
    Pesawat jet tempur J-16 melakukan manuver di langit Changchun, Tiongkok pada 17 Oktober 2019. (STR / AFP)



    Taipei: Tiongkok telah mengirim 25 pesawat tempur ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan pada Senin kemarin, yang disebut Taipei sebagai pelanggaran terbesar sejak September tahun lalu. Pelanggaran tersebut terjadi satu hari usai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengingatkan Tiongkok bahwa Washington berkomitmen membela Taiwan.

    Dilansir dari laman CNN pada Selasa, 13 April 2021, Kementerian Pertahanan Taiwan menyebutkan bahwa 25 pesawat itu meliputi 14 jet tempur J-16, empat J-10, empat H-6K, dua jenis anti-kapal selam, dan satu tipe pengendali dan peringatan dini.

     



    Baca:  Menlu AS Peringatkan Tindakan Agresif Tiongkok Terhadap Taiwan

    Taiwan merespons inkursi Tiongkok dengan mengerahkan pesawat jet tempur, mengaktifkan sistem pertahanan misil, dan mengeluarkan peringatan radio kepada para pilot Beijing.

    Data Kemenhan Taiwan memperlihatkan 25 pesawat Tiongkok tersebut memasuki ADIZ Taipei dan kembali bermanuver menuju Negeri Tirai Bambu. Puluhan pesawat itu juga sempat melakukan manuver 180 derajat antara Taiwan dan Pulau Pratas di tenggara Hong Kong.

    Taiwan mulai mengunggah informasi terbaru seputar penerbangan pesawat Tiongkok sejak akhir September lalu. Sebelum Senin kemarin, jumlah pesawat Tiongkok yang memasuki ADIZ Taiwan adalah 20 pada 26 Maret.

    Badan Penerbangan Federal AS mendefinisikan ADIZ sebagai "area udara di mana negara membutuhkan identifikasi, lokasi, dan pengendalian terhadap pesawat apapun terkait keamanan nasional."

    Pesawat Tiongkok melakukan inkursi hampir setiap hari ke ADIZ Taiwan dalam beberapa pekan terakhir. Inkursi dilakukan seiring meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan pendukung utama Taiwan, yaitu Washington.

    Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meski pulau demokratis dengan 24 juta penduduk itu telah memimpin secara terpisah selama lebih dari tujuh dekade.

    Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan bahwa Beijing tidak akan membiarkan Taiwan menjadi negara independen. Ia juga pernah mengatakan bahwa Taiwan suatu saat akan bersatu dengan Tiongkok, dan Tiongkok akan "menggunakan kekuatan" jika memang diperlukan.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id