Dirugikan Jaksa Singapura, WNI Tuntut Ganti Rugi Rp763 juta

    Fajar Nugraha - 28 Oktober 2020 06:48 WIB
    Dirugikan Jaksa Singapura, WNI Tuntut Ganti Rugi Rp763 juta
    Parti Liyani bertarung di Pengadilan Singapura untuk lawan jaksa yang mendakwanya. Foto: Mediacorp
    Singapura: Parti Liyani, warga negara Indonesia (WNI) yang dibebaskan dari tuduhan pencurian bulan lalu di Singapura, mengajukan tuntutan balik kepada dua jaksa penuntut yang mendakwanya. Ketika Parti dinyatakan tidak bersalah, dia langsung mengajukan kasus ke pengadilan tinggi.

    Meminta perintah kompensasi atas kasus itu, Parti memperkirakan kerugiannya mencapai 71 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp763 juta. Parti divonis pada Maret 2019 di Pengadilan Negara atas tuduhan mencuri barang senilai 34 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp365 juta dari mantan CEO Bandara Changi, Liew Mun Leong dan keluarganya ketika bekerja untuk mereka sebagai asisten rumah tangga (ART).

    Baca: Dibebaskan dari Dakwaan Pencurian, WNI Tuntut Balik Jaksa Singapura.

    Hukuman itu dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi pada 4 September, dan dia dibebaskan dari semua tuduhan pencurian.

    Pengacaranya, Anil Balchandani, mengatakan kepada Hakim Chan Seng Onn pada Selasa 27 Oktober 2020 bahwa sebenernya dirinya sebagai pengacara awalnya berencana untuk mendekati Liew dan keluarganya secara langsung untuk mendapatkan kompensasi. Namun instruksi kliennya adalah "jangan menambah lebih banyak masalah (kepada Liew), karena dia (telah) mengundurkan diri dari berbagai posisi di Grup Bandara Changi dan Surbana Jurong setelah dia dibebaskan”.

    Oleh karena itu Balchandani meminta kompensasi dari pengadilan, khususnya diarahkan kepada dua jaksa penuntut.

    Di bawah KUHAP, jika seorang tertuduh dibebaskan dari tuduhan apapun atas pelanggaran apapun, dan jika terbukti bahwa penuntutan itu sembrono, pengadilan "dapat memerintahkan penuntut atau pengadu atau orang yang informasinya dituntut dilembagakan untuk membayar sebagai kompensasi kepada tertuduh sejumlah tidak melebihi 10 ribu dolar Singapura (atau sekitar Rp107 juta)".

    Menjelaskan bagaimana dia menuntut angka Rp763 juta yang melebihi jumlah maksimum Rp107 juta, Balchandani menunjuk pada kerugian gaji Parti sekitar 41 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp440 juta selama sekitar empat tahun antara Oktober 2016 dan Oktober 2020. Angka ini berasal darinya gaji 750 dolar Singapura atau Rp8 juta per bulan sebagai pembantu dengan pengalaman 20 tahun.

    Angka Rp763 juga termasuk biaya akomodasi yang dikeluarkan oleh Organisasi Kemanusiaan untuk Ekonomi Migrasi (HOME), yang memberikan perlindungan kepada Parti setelah dia diberhentikan.

    "Menurut pendapat kami, ada sejumlah ketidakadilan yang kami ingin pengadilan dengar dan memerintahkan kompensasi, dan penuntut harus menunjukkan mengapa mereka memulai penuntutan," kata Balchandani, seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu 28 Oktober 2020.

    Dia menambahkan bahwa Parti meminta "jumlah nominal untuk menunjukkan bahwa ada yang tidak beres".

    "Pemohon, yang sekarang menjadi orang bebas, dianiaya, dan  Kejaksaan Agung (AGC) bisa sedikit lebih bijak di waktu berikutnya. Itu saja. Ini tidak dimaksudkan untuk memperpanjang persidangan yang sudah lama dan juga banding," tegas pengacara tersebut.
     

    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id