AS Gandeng Negara-Negara Mekong untuk Hadapi Tiongkok

    Willy Haryono - 15 September 2020 14:27 WIB
    AS Gandeng Negara-Negara Mekong untuk Hadapi Tiongkok
    Salah satu area yang dilewati Sungai Mekong. (Foto: AFP)
    Washington: Pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan kemitraan ambisius Amerika Serikat-Mekong dalam upaya meredam pengaruh Tiongkok yang semakin besar di Asia Tenggara. Kemitraan juga bertujuan mendorong independensi ekonomi negara-negara Mekong.

    Terlepas dari AS, koalisi ini meliputi Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam -- negara-negara yang dilewati Sungai Mekong. Kemitraan ini diluncurkan secara formal usai pertemuan virtual pada 11 September lalu.

    "Kemitraan Mekong-AS merefleksikan pentingnya kawasan Mekong untuk Amerika Serikat," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, dilansir dari laman The Week, Selasa 15 September 2020.

    Pompeo menyebut kemitraan ini tidak semata berkutat antar anggota, tapi juga dengan negara lain seperti Jepang, Australia, Korea Selatan, India, dan lainnya.

    Nama kemitraan diambil dari Mekong, sungai yang berawal dari area Tibet dan mengalir sejauh 4.180 kilometer melalui Tiongkok, Laos, Kamboja, Vietnam dan berakhir di Laut China Selatan. Sungai ini membentuk perbatasan antara Laos, Myanmar, dan Thailand.

    "Hubungan kami dengan mitra-mitra Mekong merupakan bagian penting dari visi Indo-Pacific dan kemitraan strategis kami dengan ASEAN," tutur Pompeo.

    AS menggelontorkan investasi awal untuk program kawasan sebesar USD150 juta (setara Rp2,2 triliun). Pompeo menyebut kemitraan Mekong-AS akan memperkuat ketahanan air dan pekerjaan Komisi Sungai Mekong.

    Dana sebesar USD55 juta disebut Pompeo akan digunakan untuk memerangi kejahatan transnasional, perdagangan manusia, penyelundupan narkotika dan senjata, serta jual beli hewan liar secara ilegal di kawasan.

    "Kami harus bersikap jujur mengenai berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk dari Partai Komunis Tiongkok (CCP), yang semakin mengancam lingkungan hidup dan otonomi ekonomi Mekong," ungkap Pompeo.

    Ia menuding keputusan sepihak CCP untuk menahan aliran air di Mekong telah memperburuk musim kering tahun ini. Pompeo mengatakan, AS akan terus mendukung negara-negara Mekong dan juga Komisi Sungai Mekong dalam menyerukan adanya transparansi data aliran air dari Tiongkok.

    "Kami mendorong negara-negara kawasan Mekong untuk mendorong CCP bertanggung jawab atas janjinya untuk berbagi data aliran air. Data seperti itu harus diungkapkan ke publik. Data itu juga harus dibagikan ke Komisi Sungai Mekong, organisasi yang melayani kepentingan negara-negara Mekong, bukan Beijing," sebut Pompeo.


    (WIL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id