Raja Malaysia Tunda Pertemuan dengan Sekutu Anwar Ibrahim

    Marcheilla Ariesta - 14 Oktober 2020 13:36 WIB
    Raja Malaysia Tunda Pertemuan dengan Sekutu Anwar Ibrahim
    Anwar Ibrahim saat bertemu dengan Raja Malaysia, Sultan Abdullah Shah, 13 Oktober 2020. AFP
    Kuala Lumpur: Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah menunda audiensi dengan sekutu dari pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim. Sedianya dua pemimpin yang berada dalam koalisi Anwar, akan bertemu Raja hari ini.

    Sebelumnya, Anwar bertemu Sultan Abdullah Shah pada Selasa 13 Oktober 2020. Anwar saat itu mengklaim memberi bukti dukungan 120 anggota parlemen untuk membentuk pemerintahan baru dan menggantikan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin.

    Baca: Temui Raja, Anwar Ibrahim Tak Cantumkan Nama Politikus Pendukung.

    Dalam sebuah pernyataan, para pemimpin Partai Aksi Demokratik (DAP) dan Partai Amanah mengatakan mereka awalnya dipanggil untuk audiensi terpisah dengan raja. Baik DAP dan Amanah bersekutu dengan Parti Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpin oleh Anwar.

    “Namun, tadi malam sekretaris pribadi senior Yang Mulia memberi tahu kami bahwa kedua sesi dengan Yang Mulia telah ditunda,” sebut pernyataan yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal DAP Lim Guan Eng dan Presiden Amanah Mohamad Sabu, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu 14 Oktober 2020.

    Mereka tidak mengatakan apakah istana telah menetapkan tanggal baru untuk pertemuan.

    Pada konferensi pers pada Selasa, Anwar mengatakan dia telah menyerahkan dokumen kepada raja untuk membuktikan bahwa dia mendapat dukungan lebih dari 120 anggota parlemen dari 222 kursi di Dewan Rakyat itu.

    Istana kemudian mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa meskipun Anwar telah mengajukan jumlah anggota parlemen yang dia katakan mendukungnya, dia belum mengungkapkan identitas pendukungnya.

    Baca: UMNO Jajaki Kemungkinan Tarik Dukungan dari PM Malaysia.

    Raja memainkan peran yang sebagian besar bersifat seremonial di Malaysia. Tetapi raja dapat menunjuk seorang perdana menteri yang menurutnya kemungkinan akan memimpin dengan dukungan mayoritas. Pemerintah baru biasanya dipilih di Malaysia, tetapi raja memainkan peran dalam kasus tertentu.

    Awal tahun ini, raja menunjuk Muhyiddin sebagai perdana menteri setelah perebutan kekuasaan menyebabkan runtuhnya koalisi yang terpilih pada Mei 2018 dan pengunduran diri Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Setelah mewawancarai setiap anggota parlemen, raja mengatakan bahwa dia yakin Muhyiddin adalah calon yang dipercayai oleh rumah tersebut.

    Kritikus mengatakan Muhyiddin, yang hanya memiliki dua kursi mayoritas, telah mencuri kekuasaan karena tidak ada pemilihan.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id