Pemberontak Karen Klaim Tembak Jatuh Helikopter Militer Myanmar

    Willy Haryono - 03 Mei 2021 17:11 WIB
    Pemberontak Karen Klaim Tembak Jatuh Helikopter Militer Myanmar
    Junta militer dihadapkan pada perlawanan kelompok antikudeta dan pemberontak separatis. Foto: AFP



    Yangon: Seorang tentara pemberontak etnis Myanmar mengatakan bahwa mereka telah menembak jatuh sebuah helikopter militer pada Senin 3 Mei. Klaim ini terlontar sehari setelah tindakan keras junta terbaru, yang yang menewaskan delapan orang.

    Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) mengatakan, telah menjatuhkan helikopter tempur tersebut selama bentrokan sengit di dekat kota Momauk di ujung utara negara itu.






    Baca: 8 Demonstran Tewas Ditembak Pasukan Keamanan Myanmar.

    Berhadapan dengan pemberontak, tentu membuat Myanmar makin terjerembah dalam kekacauan. Terutama sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dan merebut kekuasaan pada 1 Februari.

    Pasukan keamanan berusaha untuk memadamkan protes pro-demokrasi yang hampir setiap hari dengan kekuatan mematikan. Sementara konflik berkepanjangan dengan pemberontak etnis telah meletus menjadi pertempuran sengit.

    KIA, yang telah melancarkan pemberontakan selama puluhan tahun terhadap militer di negara bagian Kachin utara, telah dilanda serangan udara dalam beberapa pekan terakhir.

    "Mereka menggunakan jet tempur dan helikopter tempur sejak pukul 8.00 pagi ini untuk menyerang pasukan kami. Pasukan kami balas menembak dan begitulah cara helikopter itu ditembak jatuh," kata juru bicara KIA Kolonel Naw Bu, yang menolak memberikan rincian persenjataan yang digunakan untuk menjatuhkan helikopter.

    AFP telah mencoba menghubungi militer Myanmar untuk meminta pertanggungjawaban mereka atas kejadian tersebut, tetapi belum mendapat tanggapan.

    Sejumlah kelompok pemberontak etnis Myanmar telah mendukung gerakan protes antikudeta. Mereka menawarkan perlindungan dan bahkan pelatihan bagi para aktivis yang melarikan diri dari tindakan keras tersebut.

    Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), sebuah kelompok pemantau lokal, mengatakan bahwa setidaknya delapan warga sipil tewas dalam operasi untuk membubarkan protes pada Minggu.

    AAPP mengatakan itu adalah jumlah kematian satu hari tertinggi sejak pertemuan puncak ASEAN tentang krisis Myanmar bulan lalu. Sebanyak 765 warga sipil telah tewas dalam tindakan keras tersebut, menurut AAPP, meskipun pihak militer mempermasalahkan jumlah korban, memberikan angka yang jauh lebih rendah.

    Lebih dari 4.500 orang telah ditangkap, kata pengawas itu, termasuk puluhan jurnalis.

    Pada Senin 3 Mei -,Hari Kebebasan Pers Sedunia,- sekelompok kedutaan asing di Myanmar mengutuk perlakuan junta terhadap jurnalis, dengan mengatakan mereka telah menjadi "target penindasan".

    Outlet media independen telah ditutup atau lisensi mereka dicabut, dan otoritas Myanmar telah membatasi akses Internet dalam upaya untuk membendung arus informasi tentang protes dan tindakan keras.

    "Kami menyerukan pembebasan segera semua pekerja media, penegakan kebebasan informasi dan komunikasi, dan untuk diakhirinya semua pembatasan Internet di Myanmar," kata pernyataan itu, mencatat bahwa dari 80 jurnalis yang ditangkap oleh pihak berwenang, lebih dari setengahnya masih ditahan.

    Penandatangan termasuk kedutaan besar Amerika Serikat, Uni Eropa, Australia, Inggris, Prancis dan Jerman.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id