Lima Prioritas Kawasan untuk Antisipasi Pandemi di Masa Mendatang

    Willy Haryono - 14 November 2020 19:52 WIB
    Lima Prioritas Kawasan untuk Antisipasi Pandemi di Masa Mendatang
    Menlu Retno Marsudi saat menyampaikan konferensi pers virtual mengenai KTT East Asia dari istana Kepresidenan Bogor pada Sabtu malam, 14 November 2020. (BPMI Setpres)
    Jakarta: Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa 2020 merupakan tahun yang sangat berat bagi semua pihak, tak terkecuali negara-negara di kawasan, akibat kemunculan pandemi virus korona (covid-19). Namun sesulit apapun situasi saat ini, "semuanya dapat diselesaikan jika kita semua bekerja sama."

    Dalam Konferensi Tingkat Tinggi East Asia (EAS), Jokowi mengatakan bahwa negara-negara di kawasan harus meningkatkan kerja sama ketahanan kesehatan.

    Baca: Jokowi Dorong Negara ASEAN Miliki Ketahanan Kesehatan

    "Dalam waktu dekat, ketersediaan vaksin covid-19 di kawasan adalah keharusan. Dalam jangka panjang, kawasan kita harus siap mengantisipasi pandemi," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang menyampaikan kembali pernyataan Jokowi melalui konferensi pers virtual pada Sabtu malam, 14 November 2020.

    Lantas, apa saja yang harus dipersiapkan kawasan untuk mengantisipasi pandemi-pandemi berikutnya di masa mendatang? Menlu Retno menyebutkan adanya lima prioritas yang disampaikan Jokowi.

    "Sistem peringatan dini, mekanisme obat-obatan, peralatan medis di kala darurat, pembentukan inventory buffer di kawasan untuk alat kesehatan, serta kapasitas industri kesehatan maupun riset teknologi kesehatan," tutur Menlu Retno.

    "Pernyataan ini merupakan sebuah konsistensi dari pesan presiden selama KTT," sambungnya.

    Masih dalam KTT East Asia, Jokowi mengatakan bahwa negara-negara di kawasan harus menjadi penggerak perdamaian dan stabilitas dunia. Bibit perpecahan dan konflik tidak boleh dibiarkan. Persatuan juga harus dikedepankan dalam melawan covid-19.

    Jokowi juga mengingatkan kembali prinsip penghormatan kedaulatan negara, penyelesaian masalah secara damai, hingga menghormati hukum internasional. Ia juga mendorong negara-negara EAS untuk membangun kepercayaan strategis antar satu sama lain serta meningkatkan kerja sama.

    Modal EAS dinilai besar karena lima anggotanya duduk di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan delapan lainnya di G20. EAS juga mewakili 54 persen penduduk dunia, dan 58 persen GDP dunia.

    "Dengan potensi ini, maka kesepakatan dan upaya apapun yang dilakukan EAS, pasti berdampak besar bagi kawasan dan dunia," ungkap Menlu Retno.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id