Lindungi Pedemo, Biarawati Myanmar Berlutut di Hadapan Polisi

    Willy Haryono - 09 Maret 2021 17:00 WIB
    Lindungi Pedemo, Biarawati Myanmar Berlutut di Hadapan Polisi
    Biarawati bernama Ann Roza Nu Tawng berlutut di hadapan polisi di kota Kachin, Myanmar, dalam upaya melindungi demonstran. (AFP/Myitkyina News Journal/Kachin Waves(



    Kachin: Seorang biarawati mencoba melindungi demonstran anti-kudeta di Myanmar dengan cara berlutut di hadapan polisi. Biarawati bernama Ann Roza Nu Tawng itu menyerukan kepada polisi untuk tidak menembaki para pedemo yang disebutnya hanya melakukan aksi protes damai.

    "Anda semua harus melewati saya terdahulu," ucap Ann Roza sembari berlutut dan membentangkan kedua tangannya, menghalangi gerak polisi yang hendak meredam aksi protes.






    Sebelumnya, Ann Roza mengaku sudah siap mati demi melindungi orang lain saat tertangkap kamera sedang berlutut di hadapan polisi bersenjata di kota Kachin pada 28 Februari lalu.

    Sejumlah orang menyebut peristiwa tersebut "momen Tiananmen," merujuk pada peristiwa pembantaian di Lapangan Tiananmen pada 1989.

    Memakai pakaian serba putih dengan penutup kepala berwarna hitam, biarawati berusia 45 tahun itu kembali tertangkap kamera sedang berlutut di Kachin pada Senin pagi, 8 Maret 2021 Beberapa foto lain memperlihatkan sang biarawati berlutut di hadapan petugas, kali ini di depan sebuah gereja Katolik.

    "Saya meminta polisi untuk tidak memukuli, tidak menangkap, dan tidak memburu para pengunjuk rasa karena mereka semua tidak berbuat jahat, hanya meneriakkan slogan-slogan," tutur Ann Roza, dilansir dari laman Sky News.

    "Polisi berkata kepada saya, 'kami harus melakukan ini. Tolong menjauh dari sini,'" lanjutnya.

    "Saya menjawab, 'tidak, jika kalian ingin melakukan ini, kalian harus melewati saya dulu," tegas Ann Roza. Beberapa polisi terlihat ikut berlutut dan mencoba meyakinkan Ann Roza bahwa mereka hanya melakukan tugas, yakni menghentikan aksi protes.

    Aksi protes menentang kudeta terus berlanjut sejak militer merebut kekuasaan Myanmar pada 1 Februari lalu. Kudeta kala itu diawali dengan penahanan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.

    Pasukan keamanan Myanmar menggunakan aksi kekerasan dalam meredam demo anti-kudeta. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut, lebih dari 54 demonstran telah tewas di tangan aparat keamanan Myanmar.

    Tidak hanya kepada pedemo, militer Myanmar atau Tatmadaw kini juga berusaha membungkam media, dengan cara mencabut lisensi lima kantor berita lokal.

    Baca:  Militer Myanmar Cabut Izin 5 Media yang Sering Beritakan Demo


    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id