Militer Myanmar akan Bebaskan 23.314 Pedemo yang Ditahan

    Marcheilla Ariesta - 13 Februari 2021 19:24 WIB
    Militer Myanmar akan Bebaskan 23.314 Pedemo yang Ditahan
    Pembebasan narapidana di Myanmar. Foto: AFP.
    Naypyidaw: Militer Myanmar akan membebaskan 23.314 tahanan. Para tahanan ini merupakan pedemo yang marah atas kudeta militer.

    "Sekitar 23.314 tahanan akan diberikan amnesti dan dibebaskan pada Hari Serikat," kata pemimpin militer Jenderal Min Aung Hlaing, dalam sebuah pernyataan pada Jumat, 12 Februari 2021.

    Dilansir dari laman CNN pada Sabtu, 13 Februari 2021, Hari Serikat merupakan hari libur nasional untuk memperingati penyatuan negara. Meski dibebaskan, sebenarnya tidak jelas pelanggaran yang dilakukan oleh para tahanan.

    Ini merupakan amnesti pertama junta setelah merebut kekuasaan dari pemimpin sipil pada 1 Februari lalu. Militer Myanmar menggulingkan pemerintahan yang dipimpin Aung San Suu Kyi pada awal bulan ini dan menahannya.

    Militer membenarkan jika pengambilalihan kekuasaan tersebut lantaran adanya penyimpangan pemungutan suara pada pemilihan November 2020 lalu. Pemilihan tersebut dimenangkan oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang merupakan partai berkuasa saat itu.

    Namun, amnesti bagi para pedemo ini malah menjadi perhatian khusus Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP). Menurut mereka, amnesti hanya memberikan ruang kosong untuk penahanan tahanan politik.

    Selain pembebasan, tahanan yang menjalani hukuman atas kejahatan yang dilakukan sebelum 31 Januari 2021 untuk pelanggaran apapun juga akan dikurangi hukumannya. Min Aung Hlaing dalam sebuah pidato mengatakan amnesti narapidana merupakan bagian dari upaya membangun negara demokratis yang disiplin.

    Sejauh ini tidak ada indikasi bahwa Suu Kyi atau menteri sampai pejabat pemerintah lainnya yang ditahan dalam kudeta akan dibebaskan sebagai bagian dari amnesti. Sebagian kalangan pun menilai amnesti yang dilakukan militer Myanmar tidak mungkin akan mendinginkan kemarahan pengunjuk rasa terhadap para jenderal militer.

    Protes yang berlangsung berturut-turut selama tujuh hari terakhir mengakibatkan seorang pedemo perempuan, Mya Thweh Khine dalam kondisi kritis. Ia dirawat di rumah sakit yang ada di ibu kota Naypyidaw dengan luka tembak di kepala.

    "Luka serius yang diderita wanita muda ini disebabkan oleh polisi Myanmar yang menembakkan peluru tajam langsung ke arah pengunjuk rasa," kata Kepala Lab Bukti Krisis Amnesti Internasional, Sam Dubberley.

    Kini, militer Myanmar berusaha untuk membatasi akses internat dan layanan berita. Mereka juga menerapkan undang-undang keamanan siber baru untuk membatasi informasi terkait kondisi di negara itu.

    Baca juga: Warganet Myanmar Buru Pelaku Penembakan Pedemo Tolak Kudeta

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id