comscore

Ingin Pulang ke Myanmar, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Lakukan Protes

Fajar Nugraha - 20 Juni 2022 17:04 WIB
Ingin Pulang ke Myanmar, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Lakukan Protes
Pengungsi Rohingya di Bangladesh yang melakukan protes. Foto: AFP
Cox’s Bazar: Ribuan orang Rohingya di kamp-kamp pengungsi di pantai tenggara Bangladesh di Cox's Bazar mengadakan unjuk rasa besar pada Minggu. Mereka menyerukan masyarakat internasional untuk membuat pengaturan agar dapat kembali dengan aman ke Myanmar, bersama dengan diberikan hak kewarganegaraan.

Mengabaikan hujan, para pengungsi Rohingya berkumpul di kamp Ukhiya dan Teknaf dan mulai mengadakan protes serentak di pagi hari.
"Kami mengadakan rapat umum pada malam Hari Pengungsi Sedunia untuk memberi tahu dunia bahwa kami ingin kembali ke tanah air kami," Ansar Ali, penyelenggara demonstrasi, mengatakan kepada Kantor Berita Anadolu, Senin 20 Juni 2022.

"Dan, sebelum kita dapat memiliki repatriasi yang bermartabat dan berkelanjutan, kita membutuhkan kewarganegaraan,” imbuhnya.

Dia meminta masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan untuk melancarkan repatriasi berkelanjutan mereka.

Ribuan Rohingya berpartisipasi dalam protes, membawa spanduk bertuliskan yang diartikan dalam bahasa Indonesia, "Ayo Pulang" dan "Rohingya yang Dianiaya".

Para pengunjuk rasa Rohingya yang memegang plakat, spanduk, dan hiasan di berbagai tempat di kedua kamp menuntut pengakuan terhadap orang-orang Rohingya serta pemulangan ke Myanmar sesegera mungkin.

“Pengungsi Rohingya juga mengajukan daftar 19 poin tuntutan. Jika permintaan ini dipenuhi, Rohingya akan diizinkan untuk kembali ke Myanmar dan hidup dengan aman,” kata Ali.

Tuntutan mereka antara lain agar Rohingya disebut sebagai Rohingya daripada orang terlantar. Selain itu, pemulangan segera di bawah perjanjian yang ditandatangani oleh AS, PBB, Inggris, Uni Eropa, Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan Bangladesh, pencabutan undang-undang kewarganegaraan Burma 1982, dan pengembalian properti mereka.

Sejumlah besar polisi ditempatkan di kamp-kamp untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan. Pada akhirnya demonstrasi berakhir dengan damai.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai "minoritas paling teraniaya di dunia," menjadi sasaran kampanye militer biadab di negara bagian Rakhine Myanmar pada Agustus 2017.

Menurut badan pengungsi PBB, ribuan Rohingya telah dibantai oleh tentara Myanmar, memaksa lebih dari satu juta orang meninggalkan negara itu dalam gelombang perpindahan berturut-turut sejak 1990-an.

Bangladesh sendiri menampung sekitar 1,2 juta Rohingya di Cox's Bazar yang telah melarikan diri dari kekerasan dan penganiayaan sejak 2017.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id