Manila Jadi 'Kota Hantu' di Tengah Lockdown Korona

    Arpan Rahman - 16 Maret 2020 11:36 WIB
    Manila Jadi 'Kota Hantu' di Tengah <i>Lockdown</i> Korona
    Petugas gabungan menjaga titik masuk ke Manila, Filipina, di tengah mewabahnya korona, 14 Maret 2020. (Foto: AFP/TED ALJIBE)
    Manila: Jalanan Manila, ibu kota Filipina yang memiliki total populasi sekitar 12 juta jiwa, relatif sepi usai pemerintah menutup akses masuk ke kota tersebut. Penutupan dilakukan untuk menekan penyebaran virus korona covid-19.

    Minggu kemarin, Kementerian Kesehatan Filipina mengonfirmasi tambahan 28 kasus covid-19, yang menjadikan totalnya mencapai 140 dengan 12 kematian. Seorang bocah perempuan berusia 13 tahun menjadi warga termuda di Filipina yang terinfeksi covid-19.

    Di distrik komersial Makati, sejumlah pusat perbelanjaan sepi pengunjung. Jumlah pelayan restoran lebih banyak ketimbang tamu, yang biasanya menyerbu pusat perbelanjaan dan makanan usai misa di hari Minggu.

    Sejumlah kereta api dan bus umum tetap beroperasi di Manila, namun banyak bangku yang kosong.

    "Covid-19 ini lebih buruk dibanding perang. Kami semua terkena imbasnya," kata seorang pengemudi taksi, Bobric Caballo. Saat kondisi normal, ia mengaku dapat mengantongi penghasilan sekitar USD50 (Rp732 ribu) per hari. Namun kini, ia mengaku beruntung jika bisa mendapat USD20 (Rp146 ribu).

    "Saya memberikan masker kepada penumpang yang tidak membawanya," sebut Caballo.

    Presiden Rodrigo Duterte menyampaikan pidato nasional pada 12 Maret lalu dan mendeklarasikan "karantina masyarakat" di tengah mewabahnya korona. Duterte mengumumkan bahwa akses udara, darat, dan laut menuju 17 distrik Manila akan ditutup dari tanggal 15 Maret hingga 14 April.

    Jajaran polisi dan personel militer akan menjaga ketat titik-titik masuk ke Manila. Selama kebijakan ini berlaku, semua sekolah di Manila ditutup selama satu bulan. Aturan jam malam dari pukul 20.00 hingga 05.00 pagi juga diberlakukan di seantero wilayah ibu kota.

    Namun, Duterte tidak ingin menyebut kebijakannya ini sebagai lockdown. "Kami tidak mau menggunakan (kata) itu, karena kalian semua pasti takut akan lockdown -- tapi sebenarnya ini lockdown," tutur Duterte.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id