Terparah Sejak Juli, Sejumlah Warga Myanmar Tewas dalam Bentrokan

    Willy Haryono - 11 September 2021 16:03 WIB
    Terparah Sejak Juli, Sejumlah Warga Myanmar Tewas dalam Bentrokan
    Prajurit Myanmar bersiaga di salah satu ruas jalan di kota Yangon, 7 Mei 2021. (STR / AFP)



    Gangaw: Lima belas hingga 20 warga Myanmar tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan. Pertempuran ini disebut-sebut sebagai yang terburuk sejak Juli lalu.

    Pertempuran dekat Gangaw di wilayah Magway dimulai sejak Kamis kemarin. Bentrokan terjadi dua hari usai pemerintah bayangan Myanmar, atau NUG, menyerukan perlawanan berskala nasional terhadap militer.

     



    Bentrokan terjadi saat lebih dari 100 personel keamanan tiba dengan empat kendaraan tempur untuk mengamankan area Myin Thar dan lima desa di dekatnya.

    Dilansir dari laman The National, Sabtu, 11 September 2021, sekelompok milisi lokal sempat melepaskan tembakan peringatan, namun para prajurit Myanmar terus bergerak ke Myin Thar. Bentrokan pun tak terhindarkan.

    Gerakan perlawanan terhadap militer Myanmar terjadi sejak penggulingan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi pada 1 Februari. Awalnya unjuk rasa berjalan damai, namun berangsur memburuk karena dibarengi aksi kekerasan.

    Selasa kemarin, Duwa Lashi La, pelaksana tugas presiden NUG mendeklarasikan perang tersebut melalui sebuah video di laman Facebook.
     
    "Dengan tanggung jawab melindungi nyawa dan properti masyarakat, Pemerintahan Persatuan Nasional meluncurkan perang pertahanan rakyat terhadap junta militer," tutur Duwa Lashi La.

    "Karena ini adalah revolusi publik, semua masyarakat Myanmar dari segala penjuru diminta untuk memberontak terhadap kekuasaan teroris militer yang dipimpin Min Aung Hlaing," sambungnya.

    Baca:  Pemerintah Bayangan Myanmar Deklarasikan 'Perang Pertahanan Rakyat'

    Menurut data Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), lebih dari 1.000 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran anti-kudeta dan militer Myanmar. Ribuan pedemo juga ditangkap sejak Februari hingga saat ini.
     
    Aksi represif militer Myanmar terhadap gerakan protes membuat sejumlah grup etnis, terutama di wilayah perbatasan, memutuskan untuk ikut mengangkat senjata.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id