Jumlah Demonstran Tewas di Myanmar Lampaui 700

    Willy Haryono - 11 April 2021 09:33 WIB
    Jumlah Demonstran Tewas di Myanmar Lampaui 700
    Demonstran anti-kudeta berlari membawa foto Aung San Suu Kyi kota Yangon, Myanmar. (AFP)



    Bago: Lebih dari 80 orang dikabarkan tewas di tangan pasukan keamanan Myanmar dalam bentrokan di kota Bago, Myanmar. Lewat tambahan angka kematian ini, jumlah demonstran tewas di Myanmar sejak awal kudeta lalu telah melampaui 700, berdasarkan data terbaru Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Sipil (AAPP) pada Sabtu, 10 April 2021.

    Personel militer Myanmar dikabarkan telah mengambil sejumlah jasad pedemo dan menaruh mereka di sebuah kuil. AAPP mengingatkan bahwa angka sebenarnya dari korban tewas di Myanmar bisa jauh lebih tinggi dari estimasi saat ini.






    Dilansir dari laman BBC pada Minggu, 11 April 2021, sejumlah saksi mata di kota Bago mengaku melihat sekelompok prajurit menggunakan senjata berat dan melepaskan tembakan ke arah objek apapun yang bergerak.

    Kematian lebih dari 80 pengunjuk rasa di Bago, area dekat kota Yangon, dikabarkan terjadi sepanjang Jumat kemarin. Namun angka 80 kematian baru diketahui satu hari setelahnya dari keterangan sejumlah warga yang melarikan diri ke beberapa desa terdekat.

    "Sudah seperti terjadi genosida. Mereka menembaki apapun, bahkan bayangan pun mereka tembak," ucap seorang koordinator aksi protes, Ye Htut, kepada media Myanmar Now.

    Masih menurut laporan AAPP, sekitar 3.803 orang telah ditangkap junta militer Myanmar terhitung sejak awal kudeta. Dari total tersebut, sebanyak 3.012 di antaranya masih ditahan.

    Karen Khin, seorang aktivis anti-kudeta Myanmar, menilai junta militer terlihat semakin ingin menyudahi gerakan perlawanan warga dengan meningkatkan aksi kekerasan setinggi mungkin. Ia menyebut hal ini terlihat dari pasukan keamanan Myanmar yang mulai menggunakan persenjataan berat alih-alih senjata biasa.

    Baca:  Pemerintah Myanmar Kembali Batasi Internet, Sita Antena TV Satelit

    Militer Myanmar melakukan kudeta pada 1 Februari lalu yang diawali dengan penahanan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint.
     
    Tak lama usai kudeta, warga Myanmar pun turun ke jalan dan menggelar aksi protes masif hingga saat ini. Junta Myanmar merespons aksi pembangkangan ini dengan menggunakan aksi kekerasan meski komunitas internasional telah berulang kali melayangkan kecaman keras.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id