Singapura Hukum Mati Tersangka Narkoba Lewat Zoom

    Arpan Rahman - 21 Mei 2020 15:05 WIB
    Singapura Hukum Mati Tersangka Narkoba Lewat Zoom
    Ilustrasi oleh Medcom.id.
    Singapura: Singapura menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang tersangka narkoba melalui aplikasi konferensi video populer, Zoom. Sidang digelar virtual karena penguncian (lockdown) virus korona negara itu.

    Putusan tersebut dikecam oleh kelompok hak asasi manusia sebagai tanpa berperasaan dan tidak berperikemanusiaan.

    Pengacara pembela Peter Fernando mengatakan Mahkamah Agung mengumumkan hukuman kepada kliennya, Punithan Genasan, asal Malaysia, dalam sidang virtual Jumat.  Genasan berada di penjara, sementara Fernando dan jaksa berpartisipasi dalam persidangan dari berbagai lokasi.

    Seorang juru bicara Mahkamah Agung mengatakan pengadilan sudah melakukan dengar pendapat dan memberikan penilaian jarak jauh untuk meminimalkan penyebaran virus. Juru bicara itu, yang menolak disebutkan namanya di bawah kebijakan pengadilan, membenarkan kasus Genasan adalah yang pertama "di mana hukuman mati diputuskan dengan sidang jarak jauh di Singapura."

    “Ini adalah pengaturan yang dibuat oleh pengadilan, dengan audiensi penting yang dilakukan melalui Zoom. Kami tidak mengalami kesulitan,” kata Fernando, disitir dari Time, Kamis 21 Mei 2020. Dia mengatakan akan bertemu Genasan pada Jumat untuk membahas banding.

    Pengadilan Singapura memutuskan bahwa Genasan, 37, terlibat dalam perdagangan narkoba pada Oktober 2011. Dokumen-dokumen pengadilan mengatakan hakim mendapati ia merekrut dua kurir narkoba dan mengarahkan mereka untuk mengangkut dan mengirim 28,5 gram heroin.

    Singapura menerapkan hukuman mati atas sejumlah pelanggaran termasuk perdagangan narkoba, pembunuhan, penculikan, berperang melawan pemerintah, dan penggunaan senjata api. Negara ini telah mempertahankan hukuman mati sebagai pencegah kejahatan paling serius. Sebagian besar kasus terkait dengan narkoba.

    Negara-kota tersebut memberlakukan penguncian sebagian pada awal April setelah terkena gelombang kedua infeksi virus yang dipicu oleh pekerja asing yang tinggal di asrama padat. Dilaporkan telah lebih dari 29.000 kasus virus, termasuk yang tertinggi di Asia, tetapi hanya 22 kematian. Negeri Singa berencana secara bertahap mencabut pembatasan bulan depan.

    Human Rights Watch (HRW) mengatakan, hukuman mati sangat kejam dan tidak manusiawi, dan penggunaan Zoom untuk mengumumkannya membuatnya semakin buruk.

    "Ini mengejutkan para jaksa dan pengadilan sangat tak berperasaan sehingga mereka gagal melihat bahwa seorang pria yang menghadapi hukuman mati harus memiliki hak untuk hadir di pengadilan untuk menghadapi penuduhnya," kata wakil direktur kelompok itu, Phil Robertson. Dia katakan, hal itu menimbulkan kekhawatiran tentang mengapa Singapura terburu-buru untuk menyelesaikan kasus ini melalui Zoom.

    Amnesty International mendesak Singapura menghapuskan hukuman mati, apakah diumumkan melalui Zoom atau langsung. Penasihat hukuman mati, Chiara Sangiorgio, mengatakan Singapura hanya satu dari empat negara yang saat ini mengeksekusi orang karena pelanggaran narkoba.

    “Pada saat perhatian global difokuskan pada penyelamatan dan perlindungan jiwa dalam pandemi, pemaksaan hukuman mati semakin dibenci,” kata Sangiorgio.

    Virus korona pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan di Tiongkok akhir tahun lalu dan sejak itu menyebar ke seluruh dunia. Universitas Johns Hopkins pada Kamis 21 Mei 2020 menyebutkan virus ini telah menginfeksi warga dunia hingga 5.000.561 orang dan menyebabkan 328.191 kematian. Adapun warga yang sembuh mencapai 1.89.675 orang.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id