Masyarakat ASEAN Tak Bisa Hanya Diam Melihat Situasi Myanmar

    Marcheilla Ariesta - 08 April 2021 13:24 WIB
    Masyarakat ASEAN Tak Bisa Hanya Diam Melihat Situasi Myanmar
    Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Foto: FPCI



    Jakarta: Masalah Myanmar adalah masalah bagi ASEAN dan komunitasnya. Hal ini dikemukakan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, Kamis, 8 April 2021.

    "Sekarang, yang terjadi di Myanmar adalah tragedi Asia Tenggara. Demokrasi hilang. Myanmar adalah tempat di mana kekerasan, ketidakadilan, penindasan, teror berkuasa bertentangan dengan segala sesuatu yang diperjuangkan dan seharusnya menjadi masalah bagi ASEAN di abad ke-21," kata Dino dalam kegiatan 'Southeast Asian People-to-People Region Hall on the Political Crisis in Myanmar'.






    Baca: Dubes Myanmar di Inggris Diusir Atase Militer dari Kedutaan.

    Ia mengatakan acara ini dibuat karena rasa memiliki kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, ketika Myanmar berdarah, maka seluruh komunitas ASEAN merasakan kesakitan.

    "Apa yang terjadi di Myanmar bukan hanya urusan pemerintah. Kita punya suara. Senjata terbesar kita adalah opini publik," tegasnya.

    Menurut Dino, opini publik adalah hal yang sangat kuat. Suara ini dapat memulai proses, memberikan energi pada gerakan antikudeta, dapat mengubah persepsi.

    "Dapat membentuk kebijakan, dapat berdampak, dan dapat membuat perbedaan," terangnya.

    Dino menuturkan 'tidak campur tangan' yang dianut ASEAN seharusnya tidak bisa menjadi alasan untuk tak melakukan apa-apa, tidak mengambil sikap terhadap masalah di Myanmar.

    "Tanpa campur tangan, bukanlah berarti diam saat melihat hak asasi manusia dilanggar. Bukan diam ketika sebuah rumah di Asia Tenggara kita ini terbakar," tegas Dino.

    Ia berharap dalam pertemuan ini, suara masyarakat ASEAN dapat didengar. Nantinya, akan ada deklarasi bersama dari kegiatan ini.

    Diharapkan, deklarasi bersama dapat disampaikan kepada para pemimpin negara ASEAN, sekretaris jenderal ASEAN dan pihak-pihak terkait, bahkan kepada militer Myanmar.

    "Kami berharap dapat menghasilkan masukan kepada para pemimpin ASEAN yang akan segera melakukan pertemuan mengenai situasi di Myanmar. Semoga menjadi rujukan dan pedoman bagi para pemimpin ASEAN untuk Myanmar," pungkasnya.

    Kelompok hak sipil berbasis di Myanmar melaporkan sekitar 581 orang di Myanmar tewas sejak militer negara itu merebut kendali pada 1 Februari lalu. Hingga 6 April, total 2.750 orang ditahan dan 38 diantaranya dijatuhi hukuman sejak pemimpin sipil Aung San Suu Kyi digulingkan.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id