Pedemo Thailand Ajukan Petisi ke Jerman untuk Selidiki Raja

    Fajar Nugraha - 26 Oktober 2020 06:46 WIB
    Pedemo Thailand Ajukan Petisi ke Jerman untuk Selidiki Raja
    Pedemo akan mengajukan petisi kepada Jerman untuk menjelaskan aktivita politik Raja Maha Vajiralongkorn. Foto: AFP
    Bangkok: Demonstran Thailand mengatakan pada Minggu 25 Oktober bahwa mereka akan mengajukan petisi kepada Jerman untuk menyelidiki penggunaan kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn selama dia tinggal di negara Eropa. Pengajuan dilakukan di saat ribuan orang kembali turun ke jalan di Bangkok, menuntut reformasi monarki.

    Demonstras Minggu adalah unjuk kekuatan besar pertama sejak Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha mengabaikan tenggat waktu semalam dari pengunjuk rasa untuk mengundurkan diri. PM Prayut sebelumnya juga menarik tindakan darurat 15 Oktober yang menjadi bumerang karena memicu protes yang lebih besar.

    Baca: Raja Thailand Diperingatkan tak Boleh Berpolitik dari Jerman.

    Sebuah unjuk rasa baru direncanakan pada Senin ke Kedutaan Jerman di tengah seruan oleh pengunjuk rasa untuk mengekang kekuasaan raja. Unjuk ini disebut-sebut sebagai protes anti-kemapanan terbesar dalam beberapa tahun.

    Seperti diketahui Raja Maha Vajiralongkorn menghabiskan sebagian besar tahun ini di Jerman. Raja berada di Jerman saat rakyatnya tengah menghadapi pandemi covid-19.

    Para pengunjuk rasa mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan mengirimkan surat ke kedutaan untuk menanyakan apakah raja telah melanggar hukum Jerman dengan menggunakan kekuasaannya dari sana. Hal ini tidak dapat diterima Pemerintah Jerman.

    Para pengunjuk rasa tidak merinci kekuatan mana yang mereka yakini telah digunakan raja dari Jerman.

    "Permintaan ini ditujukan untuk membawa Thailand kembali ke monarki konstitusional yang sebenarnya," kata pernyataan itu, seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin 26 Oktober 2020.

    Baca: Raja Thailand Puji Warga Pendukung Monarki.

    Protes yang dimulai pada Juli untuk menggulingkan Prayut, mantan penguasa militer, juga semakin menuntut perubahan ke monarki. Para pengunjuk rasa mengatakan, Monarki itu telah membantu memungkinkan dominasi militer selama beberapa dekade dalam politik.

    Istana memiliki kebijakan untuk tidak berkomentar kepada media dan tidak pernah mengatakan apapun tentang kegiatan raja di Eropa. Prayut mengatakan orang seharusnya tidak mengkritik monarki bahkan jika mereka berdemonstrasi melawan pemerintah.

    Kantor perdana menteri memposting catatan di Twitter pada Minggu yang mengatakan Prayut tidak mundur. Krisis Thailand akan dibahas di parlemen pada hari Senin dan Selasa.

    "Jika dia tidak mengundurkan diri, maka kita harus keluar untuk memintanya mundur dengan cara damai," kata pemimpin protes Jatupat "Pai" Boonpattararaksa kepada ribuan orang yang berkumpul di pusat kota Bangkok.

    Baca: PM Thailand Diberi Waktu 3 Hari untuk Mundur Oleh Pedemo.

    Tidak ada tanda-tanda kehadiran polisi besar-besaran di sekitar pengunjuk rasa di Persimpangan Ratchaprasong, lokasi yang emosional bagi pengunjuk rasa sebagai tempat pertumpahan darah pada 2010 dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan terhadap protes antikemapanan.

    Seorang juru bicara pemerintah mengatakan tidak akan ada penggunaan kekerasan dan meminta orang-orang untuk tetap damai dan menghormati hukum.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id