Pemimpin ASEAN Memulai KTT di Tengah Persaingan Kekuatan Besar

    Fajar Nugraha - 12 November 2020 15:28 WIB
    Pemimpin ASEAN Memulai KTT di Tengah Persaingan Kekuatan Besar
    Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc dalam pidato pembukaan KTT ASEAN ke-37 di Hanoi. Foto: AFP
    Hanoi: Para pemimpin Asia Tenggara memulai KTT ASEAN pada Kamis 12 November diharapkan untuk mengatasi ketegangan di Laut China Selatan. Mereka membahasmenangani rencana pemulihan ekonomi pascapandemi di wilayah di mana persaingan AS-Tiongkok telah meningkat.

    The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)  (ASEAN) sejauh ini belum 'ditarik ke dalam pusaran' persaingan dan tantangan terhadap sistem multilateral internasional. Hal ini disampaikan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc mengatakan dalam pidato pembukaannya pada KTT ASEAN ke-37 di Hanoi.

    "Tiga perempat abad telah berlalu sejak akhir Perang Dunia Kedua. Perdamaian dan keamanan dunia, bagaimanapun, belum benar-benar berkelanjutan," kata Phuc, yang pemerintahannya menjadi ketua dari blok yang beranggotakan 10 negara itu.

    "Tahun ini, mereka secara khusus berada di bawah ancaman yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya risiko yang timbul dari perilaku negara yang tidak terduga, persaingan dan perselisihan kekuatan besar," tegas Phuc, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis 12 November 2020.

    Agenda puncak KTT adalah ketegangan di Laut China Selatan, di mana kapal-kapal Tiongkok telah terlibat dalam kebuntuan berkala dengan kapal-kapal dari Vietnam, Malaysia ketika Beijing berusaha untuk menegaskan klaim teritorialnya di jalur perairan yang disengketakan tersebut. Sementara Indonesia tidak memiliki klaim apapun di Laut China Selatan, namun Tiongkok beberapa kali melakukan provokasi di wilayah ZEE Indonesia.

    Tiongkok mengklaim sekitar 80 persen laut termasuk sebagian besar zona ekonomi eksklusif Vietnam, atau ZEE, serta Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly. Ini juga tumpang tindih dengan ZEE anggota ASEAN Brunei, Indonesia, Malaysia dan Filipina.

    Sejak pertengahan Agustus, Amerika Serikat telah berulang kali membuat marah Tiongkok dengan mengirim kapal perang ke Laut China Selatan. AS telah memasukkan 24 entitas Tiongkok ke daftar hitam atas keterlibatan mereka dalam membangun dan memiliterisasi pulau-pulau buatan.

    Para pemimpin ASEAN juga diharapkan untuk menandatangani Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) pada Minggu yang bisa menjadi perjanjian perdagangan terbesar di dunia.

    Kesepakatan itu, yang muncul pada saat ketegangan atas hasil pemilu AS meninggalkan pertanyaan tentang keterlibatan Washington di kawasan itu. Selain juga kemungkinan akan memperkuat posisi Tiongkok lebih kuat sebagai mitra ekonomi dengan Asia Tenggara, Jepang dan Korea, dan menempatkannya pada posisi yang lebih baik dalam membentuk aturan perdagangan kawasan.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id