comscore

Resmi Dilantik sebagai Presiden Timor Leste, Ramos Horta Berharap Gabung ASEAN

Fajar Nugraha - 20 Mei 2022 11:27 WIB
Resmi Dilantik sebagai Presiden Timor Leste, Ramos Horta Berharap Gabung ASEAN
Jose Ramos-Horta resmi dilantik sebagai Presiden Timor Leste. Foto: AFP
Dili: Jose Ramos-Horta resmi dilantik sebagai Presiden Timor Leste pada perayaan 20 tahun kemerdekaan negara termuda di Asia itu. Dia ingin membawa negara bergabung sebagai anggota ASEAN.

Kerumunan bersorak pada Kamis malam ketika Ramos-Horta melakukan perjalanan dengan iring-iringan mobil ke parlemen, di mana sebuah upacara dimulai dengan perayaan nasional untuk memperingati kemerdekaan negara itu 2002 dari Indonesia. Pelantikannya pada 20 Mei 2022, bertepatan dengan hari kemerdekaan Timor Leste.
Tokoh berusia 72 tahun itu menyerukan rekonsiliasi nasional dan persatuan saat ia mengambil sumpah jabatan sesaat sebelum tengah malam waktu setempat, waktu negara itu mendeklarasikan kemerdekaan 20 tahun yang lalu.

“Hari ini lebih dari sebelumnya, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa hanya dalam persatuan akan dapat mencapai tujuan pembangunan yang kita usulkan,” kata Ramos-Horta, seperti dikutip Al Jazeera.

Presiden baru berjanji untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan layanan kesehatan untuk ibu dan anak, dan mempromosikan dialog untuk memulihkan stabilitas politik.

“Saya mengharapkan Timor Leste untuk menjadi anggota ke-11 dari blok regional Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam dua tahun ke depan,” ujarnya.

Dalam pidato luas yang disampaikan dalam empat bahasa, Ramos-Horta menyerukan persatuan nasional antara pihak-pihak yang bersaing yang memiliki hubungan yang kacau dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya akan memenuhi dengan loyalitas fungsi yang telah diinvestasikan dalam diri dan akan mendedikasikan semua energi dan pengetahuan saya untuk pertahanan dan konsolidasi kemerdekaan dan persatuan nasional,” ucapnya.

“Perdamaian hanya akan nyata dan abadi jika dicapai melalui dialog dan saling menghormati di mana tidak ada pihak yang merasa dipaksa dan dihina,” tambahnya, berbicara di depan kerumunan personel militer dan diplomatik.

Presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa dan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia Mohammad Mahfud termasuk di antara mereka yang menghadiri peresmian.

Ramos-Horta mengalahkan petahana Francisco “Lu Olo” Guterres, sesama pejuang kemerdekaan, dalam pemilihan putaran kedua 19 April. Ramos-Horta, yang menjadi perdana menteri 2006-2007 dan presiden 2007-2012, dan Guterres telah saling menyalahkan selama bertahun-tahun kelumpuhan politik di Timor Leste.

Pada satu titik dalam upacara pada Kamis malam, Ramos-Horta menerima pelukan dari pendahulunya, Guterres.

Tinggal di pengasingan selama hampir tiga dekade dan kembali ke Timor pada akhir tahun 1999, Ramos-Horta dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1996, bersama dengan Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo, sebagai pengakuan atas pekerjaan mereka “menuju solusi yang adil dan damai untuk konflik” di negara ini.

“Dia adalah pahlawan besar di era perjuangan kemerdekaan kita,” kata Aderito Herin Martins, seorang penduduk ibu kota, Dili, tentang Ramos-Horta.

“Sekarang saatnya dia bekerja pada isu-isu kritis kemiskinan dan pengangguran yang masih dihadapi negara kita seperti yang dia janjikan dalam kampanyenya,” jelas.

Transisi Timor Leste menuju demokrasi telah berbatu, dengan para pemimpin berjuang melawan kemiskinan besar-besaran, pengangguran dan korupsi. Pemerintah terus berjuang dengan warisan pertempuran kemerdekaan berdarah dan politik faksi pahit yang kadang-kadang meletus menjadi kekerasan.

Perekonomian negara bergantung pada berkurangnya pendapatan minyak lepas pantai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa hampir setengah dari populasi hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem USD1,90 per hari, dan untuk setiap 1.000 bayi yang lahir di negara itu, 42 meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka karena kekurangan gizi.

Penduduk memberikan suara yang sangat besar untuk kemerdekaan dalam referendum 1999 yang diadakan di bawah naungan PBB, meskipun ada intimidasi dan kekerasan yang meluas dari Indonesia.

Pemungutan suara itu secara tak terduga ditawarkan oleh pemerintah Indonesia yang terlalu percaya diri menyusul perjuangan perlawanan yang berlangsung lama tetapi sebagian besar tidak membuahkan hasil. Militer Indonesia menanggapi hasil referendum dengan kampanye bumi hangus yang membuat Timor Leste hancur. Australia mempelopori misi militer PBB untuk memulihkan ketertiban dari kekacauan saat pasukan Indonesia pergi.

Butuh hampir tiga tahun lagi bagi negara setengah pulau yang berpenduduk lebih dari satu juta orang itu untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat pada 20 Mei 2002.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id